Amangkurat III dan Api dalam Sekam Keraton Kartasura


Amangkurat, Api dalam Sekam Keraton Kartasura
Amangkurat III/Wikipedia

Amangkurat III atau juga dikenal dengan nama Amangkurat Mas, penguasa Keraton Kartasura (1703-1708), murka. Beredar desas-desus bahwa permaisuri yang dikasihinya, Kanjeng Ratu Lembah, menjalin hubungan asmara dengan Raden Sukro, anak Patih Sindurejo.

Amangkurat III alias Sunan Mas dikenal berperangai buruk, kejam, dan sewenang-wenang.  Tanpa mempertimbangkan kebenaran soal kabar perselingkuhan itu, penguasa Keraon Kartasura itu langsug menghabisi Raden Sukro.

Selanjutnya giliran permaisuri. Babad Tanah Jawi menggambarkan eksekusi terhadap Sang Ratu berlangsung penuh haru (W.L. Oltholf, 2011: 548-554). Sang Raja menggelandang Ratu Lembah kepada ayahnya, Pangeran Puger, sekaligus memerintahkan untuk membunuhnya.

Sarsono dan Suyatno dalam penelitian “Suatu Pengamatan Tradisi Lisan dalam Kebudayaan Jawa: Studi Kasus Masyarakat Laweyan di Surakarta” (1985), menulis Raden Ayu Lembah dihukum gantung. Sang Permaisuri kemudian dimakamkan di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Laweyan. (hlm. 47).

Versi lain menyebutkan jasad Raden Ayu Lembah dibenamkan di pasareyan Banyusumurup, Yogyakarta. Babad Alit tulisan R Prawira Winarsa dan Raden Ngabei Jayeng Pranata (1921: 34) menggambarkan Banyusumurup menjadi makam bagi para “pendosa”.

Sejak awal, pengangkatan Raden Sutikna, nama kecil Amangkurat III,  sudah memunculkan polemik. Sesaat setelah ayahnya, Amangkurat II mangkat, Raden Sutikna mengklaim sebagai penerus tahta. Ia adalah satu-satunya putra dari mendiang Amangkurat III.

Namun, Sang Raja mendapat banyak penolak dari kalangan keraton. Para kerabat dan petinggi keraton menganggap Pangeran Puger lebih layak sebagai penerus tahta.  Raden Sutikna lahir dengan kecacatan fisik di bagin tumit.

Selain itu,  banyak orang meyakini bahwa wahyu sebagai raja jatuh kepada Pangeran Puger (Ngono ya Ngono ning Aja Ngono: Tafsir Deskriptif Filsafat & Kearifan Jawa, 2012, halaman 36, M Hariwijaya).

Amangkurat, Api dalam Sekam Keraton Kartasura
Ilustrasi eksekusi mati Raden Lembah Ayu dan Raden Sukro/repost @albumsejarah

Amangkurat Menyulut Dendam  

Menengok kebelakang.  Api dalam sekam di Keraton Kartasura sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum Raden Sutikna lahir. Raden Mas Darajat, nama kecil Pangeran Puger, dan Amangkurat II yang ketika itu masih bernama Raden Mas Rahmat, pernah sama-sama dinobatkan sebagai pewaris tahta oleh ayah mereka, Amangkurat I atau Amangkurat Agung.

Pertama, Mas Rahmat ditetapkan sebagai putra mahkota. Namun, status itu dicabut karena Mas Rahmat melakukan pemberontakan terhadap ayahnya sendiri. Ia bahkan pernah bersekutu dengan Tronojoyo, musuh besar Amangkurat Agung. Status Adipati Anom atau pewaris tahta pun dialihkan kepada adiknya, Raden Mas Darajat alias Pangeran Puger.

Ketika Mas Rahmat kembali ke kubu ayahnya, pasukan Tronojoyo sudah keburu menggempur Plered. Amangkurat I melarikan diri ke Tegal, namun meninggal dalam perjalanan pada 13 Juli 1677.

Babad Tanah Jawi menulis Mas Rahmat membubuhkan racun pada minuman ayahnya. Sang Putra Sulung itu pun menobatkan dirinya sebagai raja dengan gelar Amangkurat II. Ia kemudian memindahkan keraton ke Kartasura karena Keraton Plered hancur.

Meski kemudian Pangeran Puger menerima tahtanya lepas, namun sejak itu hubungannya dengan Sang Raja tidak pernah benar-benar akur. Amangkurat II sebenarnya mencoba memperbaiki hubungan dengan adiknya, salah satunya menikahkan anaknya, Raden Mas Sutikna, dengan putri Pangeran Puger, raden Ayu Lembah.

Namun, api dalam sekam itu masih terpelihara dengan baik. Tahta yang terlepas diam-diam memupuk dendam di hati Pangeran Puger, bahkan sampai Mas Sutikna menggantikan tahta ayahnya bergelar Amangkurat III.

Eksekusi mati atas Raden Ayu Lembah oleh Amangkurat III adalah luka lama yang tersobek kembali.  Adalah Raden Suryokusumo, adik Raden Ayu Lembah, yang kemudian membantu ayahnya menghimpun pasukan untuk memberontak. Salah satunya adalah dengan meminta bantuan VOC.

Amangkurat, Api dalam Sekam Keraton Kartasura
Lukisan Kapitein Tack (VOC) di Keraton Kartasura-Koleksi Tropen Museum/Wikipedia

Campur Tangan Belanda

Dukungan kalangan keraton dan rakyat terhadap Pangeran Puger yang menguat membuat VOC menyiapkan pasukan untuk membantu suksesi Pangeran Puger. Selain berperangai buruk, VOC menilai Amangurat III  adalah raja yang keras kepala dan sulit dikendalikan.

Dalam buku Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 halaman  227 (2012), sejarawan Inggris, Peter Carey, menulis bahwa Belanda menganggap Pangeran Puger lebih cocok menjadi raja karena bisa diajak bekerja sama, dibanding keponakannya, Amangkurat III.

Meski tak cakap dan pemarah, Sunan Mas dikenal sebagai raja yang anti anti kepada Belanda. Ia, mislanya, tidak perlu memberitahu penobatannya sebagai raja kepada Belanda. Ia juga menolak membayar hutang ayahnya kepada kompeni. Sunan Mas bahkan menjalin hubungan baik Untung Suropati yang menjadi musuh besar Belanda.  

Setelah enobatkan diri sebagai raja dengan gelar Paku Buwono I, Pangeran Puger dengan bantuan VOC pun menyerbu Keraton Kartasura pada 1705. Inilah yang kedian dikenal dengan nama De Eerste Javaansche Succesie-oorlog atau Perang Suksesi Jawa Pertama.

Serangan tiba-tiba itu membuat pasukan Amangkurat III kocar-kacir. Sang Raja sempat melarkan diri ke Ponorogo, Madiun,  dan kemudian Kediri.  Di pihak lain, Untung Suropati yang diharapkan memberi bantuan justru sedang bertempur habis-habisan dengan pasukan VOC di Pasuruan pada 1706. Untung Suropati tewas dalam pertempuran itu.

Karena terus terdesak, Amangkurat III berpindah-pindah tempat sebelum akhirnya menyerah pada 1708. Dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 terbitan tahun 2005, sejarawan MC Ricklefs menyebut Sang Raja menyerah karena janji-janji VOC (hlm. 196). Janji palsu tentu. Karena Amangkurat III kemudian dijadikan pesakitan dan dibuang ke Sri Lanka sampai meninggal pada 1734.

Pakubuwana I memang berhasil menjadi penguasa Keraton Kartasura. Namun, Sang Raja harus membayar mahal sebagai kompensasi atas bantuan perang yang diberikan Belanda.  Selain kehilangan beberapa wilayah, misalnya Jabarangkah (Kedu) dan Pekalongan, Pia juga harus membayar biaya perang sebesar 4,5 juta gulden. Itu belum termasuk kewajiban mengirim 13.000 ton beras setiap tahun kepada VOC selama 25 tahun. (*)


103 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

1 Comment on Amangkurat III dan Api dalam Sekam Keraton Kartasura

  1. Benar Khan, penguasa kerajaan Mataram setelah Sultan Agung memang banyak yg menjadi pengkhianat bangsa Jawa. Karena haus nafsu kekuasaan dan rendah nya wawasan politik kebangsaan nya akhirnya hanya mementingkan kepentingan pribadinya melalui penghambatan ke VOC.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.