Andi Arief Ditangkap karena Nyabu, Ini Sepak Terjangnya


Andi Arief Ditangkap karena Nyabu, Ini Sepak Terjangnya
Andi Arief ditangkap karena nyabu/Istimewa

Politisi Andi Arief ditangkap karena kepemilikian narkoba. Wasekjen Partai Demokrat itu ditangkap dalam sebuah penggerebekan di Hotel Menara Peninsula  kamar nomor 1214, Slipi, Jakara Barat, Minggu (3/3). Penangkapan dilakukan oleh tim Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.

Sabu dan alat penghisap atau bong diduga dibuang ke kloset. Andi yang teler akibat mengkonsumsi sabu menolak menjalani tes urine. Sampai saat ini polisi masih berusaha menemukan barang bukti dengan cara membongkar  kloset.

Selain menangkap Andi, polisi mengamankan seorang wanita yang berada di dalam hotel bersama Andi Arief. Saat ini, Andi Arief masih menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian.

“Saat ditangkap, Andi membuang sabu dan alat hisapnya ke kloset kamar mandi. Kami menemukan  residu sabu di TKP,” kata Kabareskrim Polri, Komjen Pol Idham Azis, Senin (4/3).

Public Relation Manager Hotel Peninsula, Elizabeth Ratnasari, mengungkapkan proses penangkapan terjadi pada Minggu malam hingga pukul 01.00 Senin dini hari. Namun, Elizabet menolak mengataakan siap tamu kamar hotel yang ditangkap.

DPP Partai Demokratsiap memberikan bantuan hukum terhadap Wakasekjennya itu. Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat, Imelda Sari, mengatakan Partai Demokrat akan menggelar rapat untuk membahas kasus tersebut.

“Kami masih mengecek mengecek kebanarannya . Nanti kalau sudah jelas kami akan membri keterangan pers,” ujar Imelda.

Andi Arief Ditangkap karena Nyabu, Ini Sepak Terjangnya
Andi Arief/Antara Foto

Profil Andi Arief

Andi Arief lahir di Bandar Lampung, 20 November 1970. Saat mahasiswa, ia merupakan salah satu Aktivis 1998 yang menggulingkan Presiden Soeharto. Sejak masih menjadi mahasiswa, Andi Arief aktif menyuarakan pro-demokrasi. Namanya  mualai dikenal saat dia menjadi salah satu mahasiswa yang diculik Tim Mawar.

Sebelumnya, tahun 1996, Andi adalah Ketua Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID), organisasi yang  menaungi para aktivis menggalang aksi demonstrasi menolak pemerintahan Soeharto. Andi Arief merupakan salah satu motor SMID.

Pada masanya, SMID merupakan organisasi yang kritis. Dari SMID inilah kemudian muncul gagasan terbentuknya Partai Rakyat Demokratik (PRD). PRD yang dipimpin Budiman Sudjatmiko ini menjadi lokomotif yang menggerakkan perlawanan mahasiswa dan rakyat terhadap rezim Orde Baru.

Andi Arief sempat diculik oleh Tim Mawar bentukan Kopassus pada 28 Maret 1998 di Lampung. Ia sempat mendekam di tahanan Polda Metro Jaya Jakarta pada 17 April 1998  sebelum dibebaskan.

Selain Andi, sejumlah aktivis juga dicullik antara lain SuyatBudiman Sudjatmiko, Mugiyanto, dan Nezar Patria. Andi Arief merupakan sedikit dari aktivis yang beruntung karena beberapa aktivis sampai sekarang tidak diketahui nasibnya.

Tim Mawar selama ini kerap dikaitkan dengan Prabowo Subianto, Ketua Umum Parta Gerindra dan sekaligus calon presiden.Namun, Andi Arief  tidak pernah menyalahkan Prabowo terkait penculikan para akttivis. Pada Pilpres 2019, Andi bahkan dengan terang-terangan mendukung pencalonan Prabrowo sebagai presiden.

Sebelumnya, pada 2004, Andi Arief mendukung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mencalonkan diri sebagai presiden melalui Partai Demokrat. Setelah SBY menang dan menjadi presiden, Andi Arief menduduki Komisaris PT Pos Indonesia, dan kemudian menjadi staf khusus presiden.

Dukungan yang sama juga diberikan Andi Arief saat SBY kembali mencalonkan diri sebagai presiden untuk periode kedua paad 2009. Andi Arief muncur dari Komisaris PT Pos Indonesia, dan memilih mengurus partai. Sejak tahun 2015 Andi Arief adalah Wakil Sekretaris Jenderal (Wakasekjen) Partai Demokrat hingga sekarang.

Kontroversial

Andi Arief kerap memngeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyita perhatian publik. Menjelang Pemilu 2019, Andi beberapa kali memanaskan suasana dengan pernyataan-pernyataannya yang sensasional dan kontroversial, terutama di media sosial. Salah satu yang masih diingat publk adalah saat Andi menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus.

Sebutan yang muncul karena Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno sebagai cawapres dalam Pilpres 2019 dibanding Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).  Partai Demokrat memang menyiapkan AHY sebagai pendamping Prabowo.

Begini cuitan Andi di Twitter pada Rabu, 8 Agustus 2018: “Prabowo ternyata kardus. Malam ini kami menolak kedatangannya ke Kuningan. Bahkan, keinginan dia menjelaskan lewat surat sudah tak perlu lagi. Prabowo lebih menghargai uang ketimbang perjuangan. Jenderal kardus.”

Andi Arief kembali mengeluarkan pernyataan dirinya mendapat informasi bahwa Sandiaga Uno menyetor Rp 500 miliar kepada PAN dan PKS. “Jenderal kardus punya kualitas buruk, kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum 24 jam, mentalnya jatuh ditubruk uang Sandi Uno untuk meng-entertain PAN dan PKS,” cuitnya.

Cuitan kontroversial lain dari Andi Arief lainnya adalah soal surat suara dari China di Terminal Tanjung Priok. Cuitannya pada Rabu (2/1) berisi, “Mohon dicek kabarnya ada 7 kontainer surat suara yg sudah dicoblos di Tanjung Priok. Supaya tidak fitnah harap dicek kebenarannya karena ini kabar sudah beredar.”

Menyusul isu mahar politik Sandiaga Uno, Andi Arief melontarkan analogi istri setia dan istri muda. Andi menganalogikan dukungan Demokrat dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ibarat istri setia yang meneruskan hubungan meski suami berselingkuh.

“Meneruskan koalisi dengan Prabowo ini bagi Demokrat ibarat istri setia meneruskan bahtera rumah tangga, di mana suami yang baru menikah tertangkap selingkuh dan diam-diam punya istri muda yang mata duitan,” cuitnya pada Rabu, 15 Agustus 2018.

Kasus Novel Baswedan

Berikutnya, Andi Arief menuduh sekaligus mengkritik Prabowo Subianto kurang serius bertarung dalam Pilpres 2019. Pasalnya, Prabowo tidak aktif berkampanye ke daerah, berbeda dengan cawapresnya, Sandiaga Uno.

“Ini otokritik: kalau dilihat cara berkampanyenya, sebetulnya yang mau jadi Presiden itu @sandiuno atau Pak Prabowo ya. Saya menangkap kesan Pak Prabowo agak kurang serius ini mau jadi Presiden,” tulis Andi, Jumat, 12 Oktober 2018.

Pernyataan kontroversi lainnya saat Andi Arief mengkritik lambannya kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.  Melaluui akun twitter pribadinya, Andi meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan matanya ke Novel Baswedan.

“Kalau masih ada yang yang berkoar soal penculikan atau pembunuhan masa lalu, sebaiknya besok pagi lihat mata Novel Baswedan. Tanyakan pada sebelah matanya, Jokowi ngapain aja?” kicaunya, Minggu 30 April 2018.

“Kenapa mata Pak Jokowi? Karena percuma punya mata tapi tak mau melihat persoalan yg mudah ini untuk diselesaikan,” ujar dia.(*)


103 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.