Bisnis Daging Anjing di Solo


Bisnis Daging Anjing di Solo
Sejumlah anjing siap dijual/Afp/bbc

Setiap hari lebih dari 1.000 ekor anjing dibantai untuk gkonsumi makanan di Solo dan sekitarnya. Warung-warung sate, tongseng, dan rica-rica daging marak di kota itu. Selain dari Solo, anjing-anjing tersebut didatangkan dari sejumlah kota di Jawa Barat dan Jawa Timur untuk memenuhi bisnis daging anjing sekitar 136 warung kuliner olahan anjing.

“Itu hasil survey kami di Solo (Surakarta). Angka tepatnya 1.200 ekor anjing yang dibunuh setiap hari pada 2017. Khusus Solo, jumlah warung kuliner olahan anjing  ada 136,” kata Fredy Irawan, ketua Sahabat Anjing Surakarta, sebuah komunitas pecinta anjing .

Sahabat Anjing, kata Fredy, merasa perlu terus menerus melakukan kampanye Dogs are Not Food karena sejumlah alasan. Pertama, dari aspek kesehatan daging anjing berpotensi membawa penyakit rabies. Potensi itu akan semakin besar karena sebagai binatang peliharaan, anjing tidak mendapat vaksin atau perawatan lain layaknya binatang ternak konsumsi.

“Saat ini Solo memang kota bebas rabies. Namun, anjing-anjing itu kan didatangkan dari luar kota. Tidak ada standard operational procedure (SOP) dalam pengangkutan dan pengolahan. Siapa yang menjamin binatang itu tidak terjangkit rabies atau penyakit lain?”

Ferdy menambahkan Sahabat Anjing  juga merasa perlu mengedukasi masyarakat bahwa selain membawa bibit rabies, sebagian anjing juga memiliki kandungan cacing hati dan cacing pita.

“Di luar itu, anjing itu sahabat manusia. Tidak layak untuk dimakan,” kata dia.

Pembunuhan Keji

Ferdy mengatakan pihaknya juga menyoroti cara membunuh anjing yang selama ini dilakukan secara biadab karena tidak disembelih. Menurut dia, selama ini pembunuhan anjing dilakukan dengan cara memasukkan anjing ke dalam karung, kemudian membenamkannya ke dalam air sampai mati, atau mencekiknya sampai mati dengan tali.

“Itu kan pembantaian, penyiksaan. Cara itu dilakukan karena konsumen percaya daging anjing akan terasa nikmat jika tidak ada darah keluar saat dibunuh. Karena itu anjing tidak pernah disembelih. Cara pembantaian seperti itu ini harus dihentikan,” ujar dia.

Di Solo, warung kuliner olahan daging anjing memang mudah ditemukan. Sahabat Anjing Surakarta mencatat berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, menyebut pada 2017 Jawa Tengah berada di peringkat kedua setelah Provinsi DKI Jakarta sebagai daerah pengkonsumsi daging anjing terbanyak.

Sementara dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, Kota Solo menjadi daerah pengkonsumsi daging anjing terbanyak disusul Kabupaten Klaten, Sragen, Karanganyar, dan Semarang.

Bisnis Daging Anjing di Solo
Para pecinta anjing dari berbagai komunitas menyerukan dihentikannya gkonsumsi daging anjing di Solo/Kompas.com

Warung Jamu

Warung-warung makan tersebut lebih populer dengan sebutan warung “Gukguk” dengan jenis olahan seperti  “Sengsu (tongseng asu), sate dan rica-rica. Olahan kuliner anjing biasa dijual di warung-warung tenda kaki lima dengan tenda bergambar kepala anjing dan bertuliskan “Warung Guk-Guk”.

Beberapa tahun sebelumnya, tenda warung kuliner olahan daging anjing bertuliskan “Sate Jamu”.  Sebutan “jamu” merujuk pada daging anjing yang dipercaya para pelanggannya berkhasiat untuk menambah stamina.

Namun, tulisan tersebut rupanya kerap membuat pendatang baru di Surakarta salah paham. Mereka berniat mencicipi kuliner itu karena mengira yang dijual adalah sate kambing dengan bumbu rempah sehingga nama tersebut menimbulkan polemik.

Wali Kota Surakarta saat itu, Joko Widodo, kemudian mewajibkan penjual kuliner olahan anjing menuliskan “Warung Gukguk’ lengkap dengan gambar kepala anjing pada tenda mereka. Soal keberadaan warung gukguk, Pemerintah Kota Surakarta tidak pernah mempermasalahkan keberadaannya.

“Kami tidak bisa melarang, wong tidak ada peraturan yang dijadilakan untuk melarang. Jenis kuliner itu kan sudah ada sejak zaman dulu. Kalau ada tulisan yang dijual daging anjing, mereka yang mengharamkan daging itu kan tidak membeli,” jelas FX Hadi  Rudyatmo, Wali Kota Surakarta.

Bisnis Menggiurkan Daging Anjing

Bisnis kuliner daging anjing memang cukup menggiurkan. Seorang pemilik warung gukguk, Sukardi, 61, mengatakan usaha kulinernya yang dirintis sejak 1979, saat ini sudah berkembang menjadi 4 cabang.

Dalam sehari,  satu warung miliknya rata-rata menghabiskan sekitar 8-12- ekor anjing dengan bobot minimal 10-20 kilogram per ekor. Artinya, setiap hari Sukardi harus menyediakan antara 30 hingga 60 ekor anjing untuk empat warungnya.

Setiap warung, Sukardi mengeluiarkan biaya sekitar Rp 2 juta untuk membeli anjing. Setelah menjadi olahan, dia bisa meraup keuntungan bersih Rp 2-3 juta per warung per hari. Jumlah itu selalu meningkat pada setiap akhir pekan.

“Saya ambil anjing dari pengepul dengan harga Rp 150 ribu-Rp 200 ribu per ekor. Kalau sudah jadi sate ataupun rica, harganya Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per porsi. Satu ekor anjing dengan bobot 1o kilogrambisa dimasak menjadi 100 porsi,” ujar Sukardi.

Sementara itu seorang pengepul, Mardiyanto, 58, mendapatkan kiriman anjing dari wilayah Pangandaran, Indramayu, dan Pacitan dengan harga Rp75 ribu-Rp80 ribu per ekor. Anjing itu kemudian dijual kembali ke Solo dan Yogyakarta. Mardiyanto mengaku tidak mengambil anjing dari Bali untuk menghindari penyakit rabies.

“Saya juga pilih-pilih anjing berkualitas. Tidak mungkin anjing sakit saya jual. Biasanya anjing datang sepekan dua kali, jumlahnya 500 ekor sekali datang dengan usia rata-rata 8 bulan sampai 1 tahun,” ujarnya.

Seorang pelanggan olahan daging anjing di warung Hugjoss, Heru Krisnadi, mengaku gemar masakan daging anjing karena rasanya berbeda dengan daging kambing ataupun sapi. Menurut dia, rasa panas daging anjing membuatnya lebih segar dan bersemangat.

“Rica ataupun sate anjing itu efeknya panas di tubuh. Itu membuat lebih bersemangat. Saya biasanya dua minggu sekali mampir ke Hugjoss,” ujarnya.

Disinggung anjing merupakan hewan peliharaan, bukan hewan ternak untuk dikonsumsi, Heru berdalih sepanjang binatang tersebut tiak menjijikkan, maka hewan tersebut layak untuk dimakan. Dia juga tidak peduli dengan cara membunuh anjing sebelum dimasak.(*)


103 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.