Candi Borobudur, Teratai di Tengah Danau


Candi Borobudur, Teratai di Tengah Danau
Candi Borobudur dari bukit Puthuk Setumbu/Fikria Hidyat/Kompas

Pada 1814 reruntuhan Candi Borobudur ditemukan semasa Gubernur Jenderal Hindia Timur, Thomas Stamford Raffles, menguasai Jawa. Namun,  pemugaran pertama baru dilakukan hampir seabad kemudian oleh Theodore van Erp(1907-1911).

Rakai Garung alias Samaratungga, Raja Medang Kamulan dari Wangsa Syailendra, membangun Candi Borobudur pada pada tahun 750.  Pembangunan Bhumisam Bharabudara yang kelak dikenal dengan nama Borobudur itu selesai hampir 100 tahun kemudian saat Kerajaan Medang diperintah Pramodyawardhani, putri Samaratungga, pada tahun 825.

Candi Buda terbesar di dunia ini sempat terlantar sekitar tahun 928-1006. Gunung Merapi meletus. Medang Kamulan tertimbun material, termasuk Borobudur. Mpu Sindok yang menggantikan Pramodyawardhani memindahkan kerajaannya ke (Jawa) timur.

Baca juga: Toleransi di Tengah Persaingan Dua Wangsa

Lebih dari tiga abad kemudian, Candi Borobudur sempat disinggung oleh Mpu Prapanca, penulis Kitab Negara Kertagama semasa pemerintahan Raja Hayam Wuruk sekitar tahun 1365. Namun, Kertagama menyebut adanya sebuah Wihara di Budur tanpa memberikan ulasan.

Sampai akhirnya Sir Stamford Raffles, Perwakilan Serikat Dagang Inggris di Hindia Timur, menerima kabar penemuan monumen kuno yang sangat besar di Desa Bumisegoro, Magelang, pada 1814. Raffles mengirim anak buahnya, Hermanus Christian Cornelius.

Kepada Raffles, Cornelius menulis keadaan Candi Borobudur berantakan. Dia mengerahkan 200 orang, tapi mereka hanya sanggup membakar belukar dan memotong pepohonan agar struktur candi bisa terlihat. Sebagian tanah di kaki candi tidak bisa digali karena bangunan rawan roboh.

“Orang-orang tidak sanggup memugar bangunan karena sudah tertimbun hutan dan abu selama berabad-abad, ” tulis Cornelius.

Kelak, laporan dari Cornelius melahirkan buku “Story of Java” (1817) yang terkenal itu. Sebuah karya besar yang mencacat sejarah, tradisi, dan budaya Jawa selama perjalanannya ke sejumlah kota di Jawa antara tahun 1811-1816.

Biaya Mahal Restorasi

Raffles akhirnya tiba di Magelang pada 18 Mei 1815. Dia melihat sebagian besar dari 500 patung Budha rusak, di mana sebagian justru dirusak oleh orang-orang Inggris ingin menjadikan serpihan candi sebagai oleh-oleh sepulang dari Jawa.

Saat ditemukan, batu-batu andesit itu memang telah berbentuk stupa. Namun, sampai saat itu belum diketahui struktur lengkapnya. Kerajaan Medang Kamulan yang diperkirakan semasa dengan pembangunan candi sama sekali tidak meninggalkan catatan.

Lebih dari itu, Raffles sangat takjub. Sebab dalam keadaaan nyaris runtuh, Candi Borobudur masih menampakkan kemegahannya. Dalam “History of Java”, Raffles menggambarkan Candi Borobudur yang miring, etengah roboh. Ilalang dan belukar menutup sebagian candi.

“Tingginya sekitar 100 kaki, puncak menara sekitar 20 kaki, namun telah runtuh. Hampir semua bagian interior merupakan bukit itu sendiri,” tulis Raffles.

Namun, Raffles pun tidak bisa berbuat apa-apa. Pemerintah Belanda selaku penguasa tdak mempunyai biaya cukup untuk menghidupkan kembali Candi Borobudur. Selain itu, dia dan orang-orang Inggris lainnya pun harus hengkang dari Jawa.

Sesuai Konvensi London, 13 Agustus 1814, Inggris harus mengembalikan Jawa kepada Belanda. Pada 1816, seiring dengan dengan berakhirnya perang Napoleon di Eropa, Inggris pun pergi. Belanda kembali meguasai Jawa.

Daoed Joeoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III semasa Presiden Soeharto (1978-1983),  dalam buku “Borobudur” (2004), menulis bahwa pada 1882, para petinggi Pemerintah Belanda mengusulkan untuk meruntuhkan Borobudur karena kondisinya rusak berat.

Alasan para petinggi Belanda itu, tulis Joesoef, restorasi Candi Borobudur membutuhkan alokasi dana besar. Jadi, memreteli semua relief kemudian menyimpannya di museum merupakan solusi terbaik dibandingkan melakukan pemugaran.

“Beruntung Pemerintah Belanda di Batavia menolak usulan itu di Batavia menolak usul tersebut,” tulis Joesoef.

Pada tahun 1835, Gubernur Jendral Belanda, Christiaan Hartman, meneruskan apa yang dilakukan Raffles, mengangkat Candi Candi Borobudur dari tanah. Hartman mengerahkan para pekerjanya untuk menyibak semak dan pepohonan yang menutupi candi. Lahan sekitar Borobudur terbuka, dan struktur utama candi terlihat.

Pemugaran Pertama Candi Borobudur

Pada 1845 Candi Borobudur mulai didokumentasikan oleh Schaefer, empat tahun kemudian diteruskan oleh Wilsen. Pada 1873, Leemans menerbitkan monografi Candi Borobudur. Puluhan tahun setelah kerja keras Hartman, Theodore van Erp melakukan pemugaran Candi Borobudur  atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Rooseboom  pada 1900.

“Tapi pemugaran baru dimulai pada Agustus 1907, saat Johannes Benedictus van Heutsz menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1904-1909),” tulis Joesoef.

Batu-batu yang terlepas dari susunannya dikumpulkan dan dipasang kembali.Tanah-tanah digali lebih dalam, dan batu-batu penting pun kembali ditemukan. Saat itu, pemugaran masih menggunakan teknologi konvensional.

Restorasi relief dikerjakan secara sederhana. Pemugaran dilakukan semata-mata agar tidak terjadi kerusakan lebih parah. Dalam tujuh bulan pertama, Van Erp hanya melakukan penggalian untuk mengumpulkan batu-batu candi.

Pada 1908, dia mengajukan pemugaran dengan skala lebih besar. Dengan baiaya tambahan 34.600 gulden, Van Erp memperbaiki tembok luar teras pertama, drainasi ke lereng bukit, undakan, dan pemugaran-pemugaran kecil.  Van Erp juga menyusun ulang teras lingkar yang berisi 72 stupa, merekonstruksi stupa utama, dan memperbaiki struktur candi. Restorasi pertama Candi Borobudur selesai dalam empat tahun (1911)  di masa Gubernur Jenderal Heutsz AWF Idenburg (1909-1916).

Di masa pendudukan, Jepang sempat melakukan perbaikan-perbaikan kecil untuk menjaga Candi Borobudur dari kerusakan. Jepang membebaskan Kepala Dinas Arkeologi,  Stutterheim, dari penjara untuk melakukan tugas khusus perbaikan candi pada 1942.

Pemugaran yang serius dan besar-besaran Candi Borobudur baru dilakukan oleh Pemerintah Indonesia 30 tahun kemudian, tepatnya 10 Agustus 1973 di bawah pimpinan Soekmono. Bekersaja sama dengan UNESCO, proyek memulihkan Candi Borobudur yang melibatkan sekitar 600 pekerja pun dikerjakan. Selama 11 tahun, pemugaran menghabiskan dana sebesar 24 juta dolar AS (Daoed Joesoef, “Borobudur” , 2004).

Pemugaran kedua dilakukan pada Rupadhatu (empat undak teras candi), dan Kamadhatu di kaki candi. Pembongkaran dilakukan secara menyeluruh pada bagian Rupadhatu. Proyek besar ini rampung pada 23 Februari 1983.

Candi Borobudur, Teratai di Tengah Danau
Stupa Candi Borobudur di bagian Rupadhatu/Istimewa

Struktur Candi Borobudur

Dilihat dari atas, Candi Borobudur membentuk struktur Mandala, semacam lingkaran yang merupakan lambang semesta dalam kosmologi Budha . Candi ini dibangun dari susunan batu adhesit sebanyak 55.000 kubik, berbentuk limas berundak dengan tangga naik pada keempat sisinya.

Secara utuh, candi Budha terbesar ini memiliki 10 pelataran; enam berbentuk bujur sangkar, tiga bundar melingkar, dan satu stupa utama di puncaknya dengan puluhan stupa kecil di setaip pelataran.

Sepuluh pelataran Borobudur menggambarkan filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Candi Borobudur memperlihatkan secara gamblang sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan Budha.

Sepuluh tingkatan Candi Borobudur terdiri dari tiga zona; Kamadhatu di bagian kaki, Rupadhatu di tingkatan atau pusat, dan Arpadhatu di puncak. Pembagian itu merupakan tingkat dalam ajaran Budha.

Kamadhatu

Inilah alam bawah, alam dunia yang penuh nafsu. Pada tingkatan ini, manusia masih bergelut dengan banyak keinginan. Pada bagian ini terdapat 120 relief Kammawibhangga yang menceritakan fragmen sebab-akibat, perbuatan baik dan jahat.

Rupadhatu

Tingkatan ini melambangkan dunia antara, dunia rupa. Manusia manusia telah meninggalkan hasrat dan nafsu, namun masih terikat pada rupa atau wujud. Tingkatan Rupadhatu meliputi pelatarn 1 sampai 5 yang berbentuk bujur sangkar. Pada bagian ini arca-arca Budha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas selasar.

Arupadhatu

Arupadhatu adalah simbol alam atas atau dunia tanpa rupa. Tingkatan ini diperuntukkan bagi manusia yang telah bebas dari ikatan dunia karena sudah tak lagi berada di alam bentuk, namun belum mencapai nirana atau surga.

Arupadhatu meliputi teras bundar I, II dan III, dan stupa utama di lantai kelima sampai ketujuh. Dinding pada bagian Arupadhatu tanpa relief. Arca-arca Budha berada di dalam dalam stupa dan berlubang layaknya dalam sebuah kurungan.

Tingkatan tertinggi dalam Candi Borobudur dilambangkan oleh stupa utama di puncak. Stupa terbesar ini polos tanpa lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan arca Budha yang tidak sempurna yang pernah dianggap sebagai arca Adibuddha. Padahal berdasarkan hasil penelitian arkeolog, tidak pernah ada arca di dalam stupa utama.

Arca unfinished itu merupakan arca gagal akibat kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan, arca yang salah dalam proses pembuatan tidak boleh dirusak. Saat pemugaran, para arkeolog banyak menemukan arca-arca gagal di halaman candi.

Candi Borobudur, dibangun pada abad ke-8 dan ke-9, merupakan bangunan yang 300 tahun mendahului Angkor Wat di Kamboja. Borobudur dibangun dengan 2 juta balok vulkanik yang saling mengunci rapat tanpa semen. Candi ini memiliki 2672 panel relief , menjadi relief Budha paling lengkap di dunia.

Teratai di Tengah Rawa

September 1933,  di harian Algemeen Handelsblad di Den Haag,  seorang penulis Belanda, WOJ Nieuwenkamp, menulis bahwa Candi Borobudur dibangun di atas danau purba. Nieuwenkamp mengimajinasikan Candi Borobudur ibarat bunga teratai putih raksasa yang menyembul di tengah danau.

Tulisan yang juga dibukukan dengan judul “Fiet Borobudur Meer” itu membuat gempar kalangan sejarawan masa itu. Selain sebagai penulis, Nieuwenkamp (1874-1950) juga dikenal sebagai seorang arsitek, pemahat, pelukis, dan ethnoloog. Minatnya pada budaya dan kesenian Indonesia yang besar membuatnya berkali-kali datang.

Geoloog Utrecht, Belanda, LMR  Rutten, tidak membantah teori bunga teratai itu. Namun, hipotesis Nieuwenkamp perlu diteliti dan dibuktikan. Geoloog lain, RW Van Bemmelen, menyebut ada teori yang mengatakan bahwa pada zaman purba di dataran tinggi Kedu pernah terbentuk sebuah danau besar.

Danau itu terbentuk oleh aliran Sungai Progo di celah pertemuan kaki Gunung Merapi dan pegunungan Menoreh yang tersumbat material vulkanik letusan Merapi. Berabad-abad kemudian barulah danau mengering.

Pada awal 1937, Nieuwenkamp melakukan penelitian lanjutan bersama para geoloog Belanda di Jawa, Dinas Topografi Jakarta, dan Dinas Pertambangan Bandung. Mereka mempelajari tinggi-rendah tanah dan mencari teras-teras kuno tepi danau. Selanjutnya mereka merekonstruksi bentuk dan batas-batas danau.

Hasil penelitian Nieuwenkamp dimuat di harian “Algemeen Handelsblad” pada 2 Mei 1937, lengkap dengan peta danau. Menurut Nieuwenkamp, dia berhasil menemukan hampir seluruh teras tepi danau kuno di sisi Tenggara yang pernah disebut oleh Rutten.

“Tapi luas danau ternyata lebih kecil dari yang saya duga. Lebarnya hanya 1  kilometer dengan panjang 3 kilometer,” tulisnya.

Berdasarkan topografis, Nieuwenkamp menulis bahwa letak Borobudur tidak berada pada sebuah pulau, namun di ujung tanjung atau tanah yang menjorok jauh ke tengah danau. Menurut dia, terdapat tanah sempit yang menghubungkan pelataran Borobudur dengan ujung tanah, tempat ditemukannya sisa-sisa bekas biara kuno di sisi barat laut Borobudur.

Teori Tanpa Bukti

Terdapat dua candi lain, Pawon dan Mendut yang membentuk satu garis urus dengan Borobudur.  Namun, kedua candi disebut berada di daratan. Candi Pawon di tepi danau pada ketinggian 241,8 mdpl, sedangkan Candi Mendut di ketinggian 289,3 mdpl.

Pembuktian toponimi diberikan Nieuwenkamp dengan menyebut beberapa nama di sekitar Borobudur yang berhubungan dengan air, antara lain Sabrangrawa, Bumisegara, Tanjung, dan Tanjungsari.

Namun, Van Erp membantah higotesa Nieuwenkamp di harian yang sama. Ia yang selama hampir 5 tahun memimpin pemugaran candi mengritik teori Nieuwenkamp. Kalangan sejarawan masih meragukan teori Nieuwenkamp karena tidak ada bukti epigrafis atau kajian terhadap tulisan kuno berupa prasasti.

Para arkeolog membantah teori Nieuwenkamp.  Mereka mengajukan argumen dengan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa daratan di sekitar Candi Borobudur pada masa pembangunannya berupa daratan kering.

Teori “teratai putih” juga tidak terbukti. Sebab, tidak ditemukan sisa-sisa bajralepa pada candi. Bajralepa adalah semacam semen putih yang kerap ditorehkan pada permukaan candi agar bisa diberi warna atau diberi ukiran. Pada Candi Kalasan dan Candi Sari yang lebih tua sisa-sisa bajralepa masih bisa ditemukan.

Tim geologfi Dinas Geologi Bandung pernah mencari bukti perihal danau dengan pengeboran tanah di sekitar Borobudur. Hasilnya, terdapat sisa-sisa lapisan tanah menunjukkan sebagian wilayah pernah digenangi air. Namun tidak meliputi seluruh wilayah Borobudur.

Para pakar geologi menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs. Sebuah penelitian stratigrafi, sedimen dan analisis sampel serbuk tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di sekitar Borobudur.

Aliran sungai dan aktivitas vulkanik Gunung Merapi berperan besar mengubah bentang alam dan topografi, termasu danau purba. Diketahui bahwa Gunung Merapi yang berada tak jauh dari Borobudur merupakan gunung yang aktif sejak masa Pleistosen.

Candi Borobudur, Teratai di Tengah Danau
Candi Borobudur pada tahun 1907/BorobudurPedia

Penuh Simbol Budha

Terlepas dari teori Nieuwenkamp, bunga teratai mulai dari padma (merah), utpala (biru), dan kumuda (putih) gampang ditemukan dalam semua ikonografi Budha. Bunga teratai  sering digenggam oleh Boddhisatwa sebagai laksana (lambang regalia), menjadi alas duduk singgasana Budha, dan sebagai lapik stupa.

Arsitektur Candi Borobudur sendiri menyerupai teratai, dan postur arca Budha melambangkan Sutra Teratai dalam naskah-naskah Budha Mahayana., aliran yang kemudian menyebar ke Asia Timur. Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga mirip kelopak teratai.

Candi-candi di Lembah Progo

Dari sisi geografis, Lembah Progo membentang di antara Gunung Sumbing dan Gunung Sundoro di sisi barat, kemudian Gunung Merbabu dan Gunung Merapi di sebelah timur. Lembah juga berbatasan dengan Bukit Menoreh di barat daya, serta Dataran Prambanan di tenggara.

Sungai Progo mengalir dari sumbernya di lereng Gunung Sumbing ke pantai selatan Jawa menuju Samudera Hindia. Di daratan inilah peninggalan-peninggalan Dinasti Sailendra, seperti Borobudur dan candi-candi lain.

Cerita rakyat Kedu menyebut Lembah Progo adalah tempat suci di Jawa karena banyaknya candi yang dibangun pada abad ke-8 sampai 9. Setidaknya terdapat 8 candi dalam kawasan Lembah Progo. Selain Borobudur, Mendut, dan Pawon, lima candi lainnya adalah:

Candi Ngawen, merupakan Candi Budha abad ke-8 yang letaknya tak jauh di sisi timur Candi Mendut.

Candi Banon. Berupa reruntuhan candi Dharma, beberapa ratus meter di sisi utara Candi Pawon.

Candi Canggal. Candi ini juga dikenal sebagai Candi Gunung Wukir, salah satu candi Dharma tertua. Lokasinya di Muntilan. Di sekitar candi ini pernah ditemukan Prasasti Canggal yang terkait dengan Sri Sanjaya, Raja Kerajaan Medang.

Candi Gunungsari. Hanya berupa reruntuhan candi Dharma di atas bukit, tak jauh dari Candi Gunung Wukir di Muntilan.

Candi Umbul, diduga sebagai pemandian  dan peristirahatan raja-raja Medang. Lokasi di Grabak, Magelang.

Di luar itu, terdapat 300 lebih sisa-sisa candi di kawasan Lembah Progo. Namun sebagian besar reruntuhan candi lenyap. Beberapa diantaranya digunakan untuk membangun rumah dan jembatan.(*)


103 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.