Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi


Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi
Candi Prambanan/Istimewa

Dua puluh lima tahun setelah Candi Borobudur berdiri, Raja Wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan, membangun Candi Prambanan pada pada 850 M. Nama Prambanan memang tidak sebutkan secara tersurat dalam prasasti mana pun.

Nama Prambanan muncul saat reruntuhan candi Siwa ini ditemukan pada 1733 oleh CA Lons, sejarawan Belanda, karena lokasi penemuan di Desa Prambanan. Prasasti Siwagreha tertanggal 11 November 856 hanya menyebut adanya pendirian Mamratipura dan bangunan suci Siwargha atau Siwalaya.

Para arkeolog kemudian mengaitkan Prasasti Siwargha dengan Candi Siwa karena adanya uraian secara rinci tentang gugusan candi yang bernama Siwargha. Adalah filolog asal Belanda, Johannes Gijsbertus de Casparis yang berhasil membaca Prasasti Siwargha, dan membagi isinya menjadi dua.

Bagian pertama berisi bahwa setelah tanah damai, sang raja memerintahkan pembuatan sebuah dharma atau gugusan candi  dengan pagar mengelilingi di mana setiap pintunya dijaga oleh Dwarapala.

Ada pula bangunan-bangunan kecil berderet dan bersap mengitari candi induk. Bentuk dan tingginya sama, demikian pula maksudnya. Deretan candi  berjumlah 224 dan disebut Candi Perwara.

Di bagian kedua tertulis pada hari Kamis Wage tanggal 11 bulan Margasira tahun Saka 778 atau 11 November 856 M gugusan itu selesai dibangun. Selanjutnya dialirkan air sungai ke halaman Siwalaya. Ditetapkan pula kemuian batas-batas tanah dharma bagi kuil Siwa.

Hasil bacaan de Casparis menyebut Prasasti Siwargha dan Prasasti Kedu (Prasasti Matiasih tahun 907 M) menulis raja-raja Dinasti Sanjaya. Berdasarkan prasasti ini diketahui bahwa yang memerintahkan pembangunan Candi Prambanan adalah Sri Maharaja Rakai Pikatan, menantu Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra yang membangun Candi Borobudur.

Syalindra dan Sanjaya

Nama Wangsa Sanjaya pertama kali muncul dalam tulisan “Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa” (1952) karya Frederik David Kan Bosch, arkeolog asal Belanda. Bosch menyebut semasa Kerajaan Medang terdapat dua wangsa yang berkuasa, yaitu Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya. Istilah Wangsa Sanjaya, menurut Bosc, merujuk pada nama pendiri Kerajaan Medang, yaitu Sanjaya yang memerintah sekitar tahun 732.

Wangsa Syailendra menganut Budha Mahayana, dan Wangsa Sanjaya menganut Hindu Siwa. Ibu Sanjaya, Sanaha, adalah cucu Ratu Shima yang menguasai Kerajaan Kalingga di Jepara. Sedangkan ayah Sanjaya adalah Bratasenawa atau Senna, putra Raja Mandiminak, raja galuh kedua pada 702-709 M.  Dengan demikian, Sanjaya merupakan penerus sah Kerajaan Galuh.

Kelak, penerus Wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan, menikahi Pramodyawardhani, putri Raja Wangsa Syailendra, Samaratungga, pada 840 M. Diplomasi melalui pernikahan ini menghentikan persaingan antar dua wangsa.

Candi Prambanan sendiri dibangun sebagai simbol agama Hindu, untuk mengimbangi candi Budha Borobudur yang didirikan sebelumnya. Meski memerintah Kerajaan Medang bersama istrinya, Pramodyawardhani, namun Raki Pikatan tetap ingin menanamkan pengaruh Hindu. Candi Prambanan kemudian diperluas oleh Balitung Maha Sambu, penerus Rakai Pikatan.

Baca juga: Candi Borobudur, Teratai di Tengah Danau

Selama hampir seabad, Candi Prambanan menjadi pusat peribadatan Hindu. Bersama Candi Borobudur, Candi Prambanan menjadi bangunan agung dan megah pada masa Kerajaan Medang. Periode tahun 930-an, kedua candi itu terlantar dan akhirnya rusak parah.

Letusan dahsyat Gunung Merapi memporak-porandakan Kerajaan Medang sehingga Mpu Sindok, penguasa saat itu,  memindahkan kerajaannya ke wilayah Jawa Timur. Candi Prambanan akhirnya runtuh saat gempa bumi hebat pada abad ke-16.

Reruntuhan Batu

Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi
Candi Prambanan tahun 1933/KT Satake

Reruntuhan Candi Prambanan pertama kali ditemukan oleh CA Lons, seorang pegawai VOV. Reruntuhan ditemukan terkubur di kedalaman lebih dari 6 meter, tertutup tanah dan semak. Namun, sampai tahun 1864 reruntuhan candi ini tidak mendapat perhatian dari Pemerintah kolonial.

Penggalian baru dilakukan pada tahun 1855 oleh Jan Willem Ijzerman, seorang geolog Belanda. Ia mulai memisahka batu-batu dari tanah, terutama yang menutupi bilik-bilik Candi Siwa. Isaac Groneman kemudian melakukan penggalian besar-besaran, namun hanya sekadar agar batu-batu candi, potongan relief, dan arca-arca terangkat ke ats tanah.  Benda-benda berejarah itu akhirnya dijarah dan menjadi hiasan taman atau pondasi rumah.

Pada tahun 1902, Theodorus van Erp yang juga melakukan proyek pemugaran Candi Borobudur, mulai melakukan identifikasi dan pengelompokan batu-batu Candi Prambanan. Pemugaran secara metodologis baru dilakukan lebih dari 15 tahun kemudian oleh Oudheidkundig Dienst (Dinas Purbakala) di bawah pimpinan  PJ Perquin pada 1918.

Perquin mulai merekonstruksi reruntuhan Candi Siwa yang merupakan candi utama.  Rekonstruksi dilanjutkan berturut-turut sepanjang tahun 1926 hingga 1932 oleh De Haan  dan VR van Romondt.  Pemugaran terhenti pada 1942 saat Jepang melakukan invasi. Rekonstruksi Candi Siwa akhirnya selesai pada 1953. Setahun kemudian, dua Candi Apit dan dua Candi Perwara berhasil dipugar dan direkonstruksi.

Pada masa Presiden Soeharto, Candi Siwa atau yang lebih dikenal dengan Candi Rara Jonggrang kembali dipugar pada 1977.  Berikutnya Candi Brahma yang juga merupakan candi utama dipugar sepanjang tahun 1978 hingga 1986. Sedangkan Candi Wisnu giliran dipugar pada tahun 1982 hingga 1991.

Selanjutnya gugusan candi Prambanan berturut-turut dipugar, yaitu Candi Wahana (Nandi, Angsa, dan Garuda) pada 1993. Pada 2004 dilakukan pemugaran kedua terhadap Candi Siwa. Sebab, pada pemugaran pertama tahun 1918-1953 tidak disertai konservasi.

Susunan Candi Prambanan

Pada masanya, komplek Candi Prambanan merupakan sebuah gugusan candi. Terdapat tiga candi utama (Trimurti), yaitu Candi Siwa atau Rara Jonggrang, Wisnu, dan Brahma. Selain itu, ada tiga Candi Wahana yang terdiri dari Candi Nandi, Candi Garuda, dan Candi Angsa.

Selanjutnya dua Candi Apit, Candi Kelir, Candi Patok, dan sebanyak 224 Candi Perwara yang tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar. Total, jumlah candi di kompleks Prambanan adalah 240 candi.

Namun, di kompleks Candi Prambanan kini hanya tersisa 18 candi  yang terdiri dari 8 candi utama dan 8 candi kecil serta 2 Candi Perwara. Sisanya adalah reruntuhan batu yang menunggu dipugar. Jika seluruhnya selesai dipugar, akan terdapat 224 candi yang ukuranya sama, luas dasar 6 meter persegi dan tinggi 14 meter.

Kawasan gugusan candi ini berupa latar bawah, latar tengah, dan latar atas di mana semakin ke dalam makin tinggi letaknya. Latar pusat merupakan latar dengan deretan 16 candi besar dan kecil.

Candi-candi utama berada di dua deret yang saling berhadapan. Deret pertama adalah Candi Siwa, Candi Wisnu, dan Candi Bhama. Deret kedua terdiri dari Candi Nandi, Candi Angsa, dan Candi Garuda.

Pada ujung  lorong yang memisahkan kedua deretan candi utama terdapat Candi Apit. Delapan candi lainya lebih kecil, empat di antaranya adalah Candi Kelir dan empat Candi Candi Sudut.

Candi di Kompleks Prambanan

Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi
Kompleks Candi Prambanan/Liputan6.com

Candi Siwa

Candi Siwa merupakan candi terbesar di antara candi-candi Prambanan. Nama Siwa disematkan karena di relung candi terdapat arca Siwa Mahadewa yang merupakan arca terbesar. Candi terbagi tiga bagian yaitu kaki, tubuh dan kepala.

Kaki candi adalah dunia bawah atau dunia nafsu, tubuh candi menggambarkan dunia tengah di mana manusia meninggalkan keduniaannya, sedangkan  kepala candi adalah dunia atas, dunia para dewa. Candi Siwa berada di tengah dengan kaki bangunan berbentuk bujur sangkar.

Candi ini memiliki empat ruangan berisikan tokoh-tokoh dengan cerita masing-masing. Keempat ruangan dibangun terpisah menghadap ke 4 arah mata angin utama. Ruangan utama berukuran 7 m x 7 m dengan arca Siwa Mahadewa berusia lebih dari 1200 tahun.

Arca Siwa memiliki  urna (mata ketiga), dan empat tangan. Tangan kanan depan memegang lotus (teratai), tangan kiri di belakang memegang camara (cambuk), dan tangan kanan lainnya memegang aksamala (tasbih). Arca Siwa mengenakan upawita, selendang berbentuk ular yang melingkar dari bahu hingga pinggang.

Relung sebelah utara terdapat Arca Durgamahisasuramardhini, yaitu istri dewa siwa. Inilah yang disebut Rara Jonggrang dalam folklor (cerita rakyat) yang terkenal itu. Arca ini memiliki delapan tangan dan berdiri di atas Mahisa.

Relung sebelah barat terdapat arca Ganesha atau manusia berkepala gajah, putra Dewa Siwa dengan Dewi Uma. Dalam mitologi agama Hindu, Ganesha merupakan simbol kebijaksanaan.

Arca ini juga mempunyai empat tangan. Tangan belakang memegang cakra (senjata Dewa Wishnu) dan tasbih, sedangkan tangan di depan memegang mangkuk dan taring. Arca ini berwujud manusia berkepala gajah, menggambarkan putra mahkota sekaligus panglima perang Raja Balitung.

Bilik selatan candi adalah arca Siwa Mahaguru (Agastya) yang berdiri di atas Padmasana (lotus). Berwujud seorang tua berjanggut. Tangan kana memegang tasbih, tangan kiri memegang kendi, dan di bahunya terdapat kipas. Trisula yang merupakan senjata khas Siwa berada di belakangnya. Arca ini menggambarkan pendeta dan guru di istana Raja Balitung.

Candi Brahma

Luas dasar candi 20 meter persegi dengan tinggi 37 meter. Terdapat  arca Brahma berkepala dan berlengan empat. Salah satu tangan memegang tasbih, satunya lagi memegang kamandalu tempat air.

Keempat wajah menggambarkan empat kitab suci Weda yang menghadap ke empat arah mata angin. Sedangkan lengannya menggambarkan empat arah mata angin.

Candi Wisnu

Hanya ada satu ruangan dalam candi ini, dan berisi arca Wisnu bertangan empat yang memegang gada, cakra, tiram. Pada dinding terdapat relief cerita Kresna sebagai penjelmaan Wisnu, dan Balarama atau Baladewa, kakaknya.

Candi Nandi

Luas dasar 15 meter persegi dengan tinggi 25 meter. Di ruangan terdapat arca seekor lembu jantan yang tengah berbaring. Di sudut belakang terdapat arca Dewa Candra bermata tiga yang berdiri di atas kereta ditarik oleh tujuh ekor kuda.

Candi Angsa

Candi Angsa mempunyai satu ruangan namun kosong. Luas dasarnya 13 meter persegi dan tinggi 22 meter.

Candi Garuda

Bentuk dan ukuran serta hiasan dindingnya sama dengan Candi Angsa. Di ruangan terdapat arca kecil yang berwujud seekor garuda di atas seekor naga.

Candi Apit

Luas dasarnya 6 meter persegi dengan tinggi 16 meter. Ruangan kosong.

Candi Kelir

Luas dasarnya 1,55 meter persegi dengan tinggi 4,10 meter. Candi ini tidak mempunyai tangga masuk, ber fungsi sebagai penolak bala.

Candi Sudut

Luas dasarnya 1,55 meter persegi dengan tinggi 4,10 meter.

Candi-candi di Sekitar Prambanan

Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi
Candi Ratu Boko/Istimewa

Selain candi-candi yang berada di dalam kompleks Prambanan,  ada beberapa candi terkenal yang berada di sekitar Candi Prambanan.  Beberapa candi itu adalah:

Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Sewu

Ketiga candi ini tinggal reruntuhan. Hanya Candi Sewu yang masih terekonstruksi dan bisa dinikmati keindahanya.

Candi Plaosan

Lokasinya sekitar 1 kilometer arah timur candi Sewu. Candi ini dibangun pada pertengahan abad 9 M oleh Rakai Pikatan sebagai hadiah untuk permaisurinya, Pramodyawardhani. Gugusan Candi Plaosan Lor terdiri dari dua candi induk, 58 perwara dan 126 buah stupa.

Kelompok Candi Plaosan Kidul (selatan) hanya ada satu candi. Halaman candi induk terbagi dua, di mana di atasnya masing-masng berdiri biara bertingkat dua. Tingkat atas merupakan tempat tinggal para pendeta Budha, dan tingkat bawah untuk kegiatan keagamaan.

Candi Sajiwon

Lokasinya berada sekitar 2 kilometer ke arah tenggara dari gugusan Candi Prambanan. Sebagian besar hanya berupa reruntuhan.

Candi Ratu Boko

Berada sektar 3 kilometer ke arah selatan dari cand-candi Prambanan. Candi Ratu Boko berada di atas bukit yang merupakan lanjutan dari pegunungan seribu . Candi Boko mirim sebuah keraton. Candi Boko diperkirakan dibangun oleh Balaputera Dewa, putra Raja Samaratungga, sebagai benteng pertahanan terhadap serangan Rakai Pikatan. Reruntuhan Candi Boko pertama kali ditemukan oleh Van Boeckholzt tahun 1790.

Candi Banyunibo

Candi terletak sekitar 200 meter arah tenggara dari Candi Boko. Bangunan ini berada di atas sebuah lembah.

Candi Sari

Puncak atap candi ini berhiaskan 9 stupa yang sama sebangun dan tersusun dalam tiga deret. Di bawah masing-masing stupa terdapat ruangan bertingkat dua sebagai tempat meditasi.

Candi Sari berukuran panjang 17, 32 meter dan lebar 10 meter. Arca-arca Bodhisattwa terpahat pada dinding luar.

Candi Kalasan

Candi ini merupakan salah satu peninggalan Budha. Candi ini didirikan oleh Rakai Panangkaran pada tahun 778, sebagai persembahan untuk Dewi Tara. Prasasti Kalasa menyebutkan tentang peringatan jasa Maharaja Tejahpurana Panangkaran karena telah membangun kuil Dewi Taraserta. Kuil itu dinamakan Tarahbawana yang kini dikenal sebagai Candi Kalasan.

Candi Kalasan merupakan komplek bangunan yang terdiri dari candi induk yang dikelilingi 52 stupa.Terdapat batu monolit atau batu bulan di tangga pintu masuk sisi timur. Terdapat relung  bergambar dewa memegang bunga teratai. Di setiap pintu masuk candi terdapat hiasan kepala kala dengan kuncup bunga di atas kepala.

Sejak ditemukan, Candi Kalasan mengalami tiga kali pemugaran. Pertama kali dipugar oleh arkeolog Belanda, Van Romondt,  pada tahun 1927-1929.

Candi Sambisari

Berada sekitar 5 kilometer arah barat dari Prambanan. Candi ini sempat terpendam  ratusan tahun akibat letusan Gunung Merapi. Ditemukan pada Juli 1966 oleh seorang petani. Mulai dipugar dan direkonstruksi pada tahun 1986.

Legenda Rara Jonggrang

Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi
Ilustrasi Legenda rara Jonggrang/Istimewa

Folklor atau cerita rakyat menuturkan bahwa Candi Prambana dibangun oleh Bandung Bondowoso, putra raja Kerajaan Pengging. Konon, Candi Prambanan adalah syarat yang diajukan Rara Jonggrang kepada Bandung Bonowoso untuk bisa memperistrinya.

Kisah berawal dari dua kerajaan yang hidup berdampingan, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Raja Pengging, Prabu Damar Maya,  memerintah dengan bijaksana. Ia memiliki seorang anak, Bandung Bondowoso, yang sakti.

Sedangkan Raja Baka adalah Prabu Baka memerintah dengan kejam dibantu patihnya, Gupala. Prabu Baka memiliki seorang putri yang sangat cantik, Rara Jonggrang.  Keserakahan Prabu Baka merebut kekuasaan Pengging mengakibatkan dua kerajaan itu berperang.

Prabu Damar Maya pun mengirim Bandung Bondowoso untuk memimpin pasukannya menggempur pasukan Baka. Setelah pasukan Baka kocar-kacir, Bandung Bondowoso pun bertemp[ur habis-habisan dengan Prabu Baka.

Namun, pertempuran tujuh hari tujuh malam akhirya berhasil dimenangkan oleh Bandung Bondowoso. Mendengar kabar Prabu Baka tewas, Patih Gupala melarikan diri menuju ke Kerajaan Baka. Bandung Bondowoso mengejar, dan saat itulah dia bertemu Rara Jonggrang.

Dikutuk Bandung Bondowoso langsung tjaruh cinta dan berniat melamar sang putri. Rara Jonggrang pun mengajukan syarat yang mustahil bisa dilakukan.Pertama, dia meminta dibuatkan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda. Syarat kedua, Rara Jonggrang meminta dibangunkan seribu candi dalam satu malam.

Candi ke 1000

Dibantu ribuan jin, Sumur Jalatunda berhasil diselesaikan. Rara Jonggrang mulai cemas. Apalagi Bandung Bondowoso sudah menyelesaikan sebanyak sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi sehingga hanya kurang satu candi.

Rara Jonggrang pun membangunkan dayang-dayang istana dan seluruh perempuan desa untuk menumbuk padi. Beberapa di antara mereka membakar jerami di sisi timur, sehingga para jin mengira pagi telah tiba. Mendengar suara lesung dan cahaya kekuningan di timur, para jin pun meninggalkan pekerjaannya karena mengira matahari sudah terbit.

Bandung Bondowoso pun gagal menyelesaikan satu candi terakhirnya. Dia marah karena Rara Jonggrang menipunya. Bandung Bondowoso pun mengutuk gadis pujaannya itu menjadi batu untuk melengkapi seribu candi yang dibangunnya.

Sepulang dari pertempuran, Bandung Bondowoso menceritakan semua yang dialaminya, termasuk mengutuk Rara Jonggrang menjadi batu. Sang Raja marah besar dan kecewa dengan perbuatan anaknya. Dia kemudian mengutuk Bandung Bondowosio menjadi lembu (Lembu Sora).

Namunn, meski sudah menjadi lembu, Bandung Bondowoso tetap mencintai Rara Jonggrang.  Raja akhirnya mengutuk Lembu Sora menjadi batu. Arca lembu itu yang menjadi alas kaki Rara Jonggrang dapat ditemui di Candi Prambanan.

Wisata Candi Prambanan

Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi
Tari Pendet di kawasan wisata Candi Prambanan

Rute Menuju Candi Prambanan

Rute Yogyakarta-Candi Prambanan

Jarak pusat Kota Yogyakarta-Candi Prambanan sekitar 30 kilometer menuju arah timur laut. Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum.

Kendaraan Pribadi

Dari Yogyakarta, Anda bisa menggunakan sepeda motor atau mobil menuju arah timur melewati Jalan Raya Yogyakarta-Solo. Candi Prambanan berada di Jalan Raya Yogyakarta-Solo kilometer 16. Waktu tempuh sekitar 30 menit-1 jam tergantung okondisi lalu-lintas.

Kendaraan Umum

Dari Terminal Giwangan Yogyakarta, ambil bus jurusan Yogyakarta-Solo. Anda bisa langsung turun di depan pintu gerbang Candi Prambanan. Bisa juga menggunakan bus Trans Jogja koridor 1A dari berbagai halte di Jogja, turun di Halte Trans Jogja di Candi Prambanan. Biayanya Rp 3.500.

Rute Solo-Candi Prambanan

Jarak Solo-Candi Prambanan sekitar 50 kilometer arah barat daya.

Kendaraan Pribadi :  Melalui Jalan Raya Solo-Yogyakarta. Waktu tempuh sektar 1 jam. Kendaraan Umum : Gunakan bus jurusan Solo-Yogyakarta dari terminal Tirtonadi Solo. Anda bisa langsung turun di depan kawasan Taman Wisata Candi Prambanan. Biaya Rp 15.000.

Rute Semarang-Candi Prambanan

Jarak tempuh Semarang-Candi Prambanan 120 kilometer.

Kendaraan Pribadi : Melalui Bawen menuju Magelang dan Yogyakarta. Sesampai di kawasan Kabupaten Sleman (Jombor),  belok ke kiri (timur) lewat Jalan Ring Road Utara menuju arah Kota Solo. Candi Prambanan berada di Jalan Raya Solo-Jogja. Waktu tempuh sekitar 4 jam.

Kendaraan Umum: Dari Semarang menggunakan bus jurusan Semarang-Yogyakarta, turun di Terminal Jombor, Sleman.  Biaya Rp 50.000. Selanjutnya gunakan bus Trans Jogja menuju arah Kalasan atau langsung ke Candi Prambanan.

Tiket Masuk Candi Prambanan

Candi Prambanan buka setiap hari pukul 06.00-17.00

Wisatawan Domestik: Dewasa Rp 40.000,  Anak-anak Rp 20.000.

Wisatawan Asing: Dewasa 25 dolar AS, Anak-anak 15 dolar AS

Tiket Masuk Paket Bundling Candi Prambanan-Candi Borobudur

Wisatawan Domestik: Dewasa Rp 75.000,  Anak Rp 35.000.

Wisatawan Asing: Dewasa 40 dolar AS, Anak-anak 25 dolar AS

Tiket Masuk Paket Bundling Candi Prambanan-Candi Ratu Boko

Wisatawan Domestik: Dewasa Rp 75.000,  Anak Rp 35.000.

Wisatawan Asing: Dewasa 40 dolar AS, Anak-anak 25 dolar AS

Pertunjukan Sendratari Ramayana 

Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi
Pertunjukan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan/Istimewa

Wisata Candi Prambanan juga menyajikan pentas Sendratari Ramayana, sebuah pertunjukan yang menggabungkan tari dan drama tanpa dialog berdasarkan cerita Ramayana. Sendratari ini rutin dipentaskan ejak tahun 1962. Lokasi di sekitar Candi Prambanan.

Ada dua versi pertunjukkan untuk Sendratari di Candi Prambanan. Versi pertama berupa kisah 4 babak dalam 4 malam pementasan. Setiap babak berdurasi 1,5 jam.

Versi kedua dipentaskan dalam babak penuh atau kompilasi dari 4 babak dalam 1 kali pertunjukan selama selama 2 jam.

Pertunjukkan mulai pukul 19.30-21.30 WIB. Berikut ini jadwal pementasan untuk tahun 2019.

Tempat pertunjukan Trimurti Stage Candi Prambanan

JANUARI         1, 3, 5, 8, 10, 12, 15, 17, 19, 22, 24, 26, 29, 31

FEBRUARI      2, 5, 7, 9, 12, 14, 16, 19, 21, 23, 26, 28

MARET           2, 5, 7, 9, 12, 14, 16, 19, 21, 23, 26, 28, 30

APRIL             2, 4, 6, 9, 11, 13, 16, 18, 20, 23, 25, 27, 30

NOVEMBER    2, 5, 7, 9, 12, 14, 16, 19, 21, 23, 26, 28, 30

DESEMBER    3, 5, 7, 10, 12, 14, 17, 19, 21, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31

Tempat Pertunjukan Panggung Terbuka Candi Prambanan

MEI                  2, 4, 7, 9, 11, 14, 16, [17], [18], [19], [20], 21, 23, 25, 28, 30

JUNI                1, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, [14], [15], [16], [17], 18, 20, 22, 25, 27, 29

JULI                  2, 4, 6, 9, 11, [12], [13], [14], [15], 16, 18, 20, 23, 25, 27, 30

AUGUSTUS     1, 3, 6, 7, 8, 10, 13, 15, [16], [17], [18], [19], 20, 21, 22, 24, 27, 28, 29, 31

SEPTEMBER   3, 5, 7, 10, 12, [13], [14], [15], [16], 17, 19, 21, 24, 26, 28

OKTOBER       1, 3, 5, 8, 10, [11], [12], [13], [14], 15, 17, 19, 22, 24, 26, 29, 31

Episode 1 : Hilangnya Dewi Sita

Episode 2 : Hanoman si Pembawa Pesan

Episode 3 : Matinya Kumbakarna

Episode 4 : Api Suci Dewi Sita

Tiket Masuk Sendratari Ramayana

Candi Prambanan, Rara Jonggrang di Balik Seribu Candi
Tiket Masuk Sendratari Ramayana di Candi Prambanan

VIP Class        Rp 400.000

Special Class  Rp 300.000

1st Class         Rp 200.000

2nd Class        Rp 125.000

Pelajar              Rp   50.000

Alamat : Jl Jogja-Solo Km 16 Yogyakarta

Telepon : +62 274 496 408  atau +62 274 497 771

Handphone: +62 858 0352 5354

Faksimili : +62 274 496 408

Email: teater@borobudurpark.co.id

Penginapan Murah sekitar Candi Prambanan

Poeri Devata Resort Hotel

Lokasi di Klurak Taman Martani,  sekitar 400 meter dari Candi Prambanan. Hotel bintang 3 Tarif mulai Rp 372.562.00 per malam.

Candi View Hotel

Lokasi Jalan Candi Sewu sekitar 500 meter dari Candi Prambanan. Hotel bintang 1. Tarif mulai Rp. 268.595.00 per malam.

Quin Colombo Hotel Yogyakarta

Lokasi di Jalan Raya Yogya-Solo KM 14, sekitar 3 kilometer dari Candi Prambanan. Hotel bintang 3. Tarif mulai Rp 267.769.00.

Sambisari Hotel House

Di Jalan Sambisari Blok H1 Puwomartani, Prambanan, sekitar 5 km dari Candi Prambanan.  Hotel bintang 1 dengan tarif  mulai Rp 342.149.00 per malam.

BeOne House Jogja

Lokasi Jalan Solo KM 10.5, Juwangen, Purwortaman, Sleman. Tarif mulai Rp 288.000 per malam.

Hotel Galuh Prambanan

Lokasi di Jalan Manisrenggo K1 Tologo Prambanan, Klaten. Tarif mulai Rp 350.000.00 per malam.

Nitada Premier Prambanan

Lokasi 4,6 kilometer dari Candi Prambanan di Jalan Dayakan Raya No. 9 Purwomartani, Kalasan, Sleman. Tarif mulai Rp 140.496.00 per malam.

Hotel Srikandi Bandara Yogyakarta

Lokasi di Jalan Solo KM 11, Berbah, Kalasan, Sleman. Tarif mulai Rp 165.289.00 per malam.

Galaxy Hotel and Convention Yogyakarta

Lokasi di Jalan Candi Sambisari No. 88, Kalasan, Yogyakarta. Tarif mulai Rp 165.289.00 per malam.

Hotel Prambanan Indah

Lokasi sekitar 100 meter dari Candi Prambanan. Tarif kamar mulai Rp 85.000 per malam.

Hotel Jaya Kusuma

Lokasi di Jalan Raya Solo No. 2-3 Tologo, Prambanan, Kalten. Tarif mulai Rp 120.000 per malam (*).

 

Baca juga: 60 Obyek Wisata Jogja Paling Instagramable

 

 


105 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.