Keris Mpu Gandring, Darah Tumpah di Singasari


Keris Mpu Gandring, Pertumpahan Darah di Singasari
Ilustrasi Keris Mpu Gandring/Istimewa

Hampir separo masa Kerajaan Singasari diwarnai dengan pemberontakan dan pertumpahan darah. Tiga dinasti saling berbalas dendam dan berebut kekuasaan. Inilah tragedi berdarah-darah mengisahkan tiga trah di Singasari: Ken Arok-Ken Dedes, Ken Arok-Ken Umang, dan Ken Dedes-Tunggul Ametung.

Keris Empu Gandring tidak pernah tercatat dalam Negarakertagama, kitab yang menjadi babon atau sumber sejarah yang terpercaya. Kitab ini ditulis Mpu Prapanca pada masa Sri Rajasa Hayam Wuruk memerintah Majapahit (1334–1389).

Pararaton, kitab yang lebih dari separo menulis perjalaan Ke Arok, juga tidak menyebut-nyebut keris Mpu Gandring. Sejarawan dari Universitas Negeri Sealas Maret (UNS) Surakarta, Radjiman, mengatakan tidak ada sumber jelas yang bisa menjadi acuan mengungkap keberadaan keris Mpu Gandring.

“Pararaton hanya menyinggung sebilah keris bernama Coten yang dikatakan buatan Mmpu Gandring, bukan keris yang bernama Mpu Gandring. Itu pun hanya sekilas, tidak ada bahasan detil” kata Radjiman.

Awal Kutukan di Singasari

Kesaktian dan kutukan keris Mpu Gandring mengalir lebih banyak bersumber dari versi tutur. Kisah heroik, berdarah-darah, pengkhianatan, dan balas dendam di Kerajaan Singasari itu menyebar dengan deras secara turun-temurun.

Ketika Ken Arok menikam Mpu Gandring dengan keris yang belum sempurna, demikian Pararaton mengisahkan. Setelahnya, Sang Mpu mengutuk bahwa keris buatannya akan membunuh tujuh nyawa, termasuk Ken Arok dan keturunannya.

Setelah Mpu Gandring, kelak keris juga memutus hidup Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Ki Pengalasan, dan Anusapati. Tohjaya, anak Ken Arok dari Ken Umang, terbunuh dalam pemberontakan Ranggawuni dan Mahesa Campaka.

Kutukan itu bermula dari Ken Arok yang merebut Ken Dedes istri penguasa Tumapel, Akuwu Tunggul Ametung, sekaligus merebut Tumapel, dan selanjutnya Kediri. Tunggul Ametung pun terbunuh dengan keris Mpu Gandring menancap di dadanya oleh Ken Arok.

Muslihat Arok-lah yang akhirya membuat Keboj Ijo menanggung akibatnya: terbunuh oleh keris yag sama. Ken Arok mengekesekusinya dengan dingin. Tunggul Ametung tewas, dan Ken Arok segera memperistri Ken Dedes yang tengah mengandung. Kelak, setelah dewasa, Anusapati -anak Ken Dedes dan Tunggul Ametung membalas kematian ayahnya.

Baca juga: Ken Dedes, Ibu Raja-raja di Tanah Jawa

Keris, Senjata Penuh Darah dari Ajisaka hingga Mataram

Seperti mengulang muslihat Arok, Anusapati meminjam tangan Ki Pangalasan, orang kepercayaannya, untuk membunuh ayah tirinya itu, Raja Singasari. Anusapati kemudian menghabisi Ki Pangalasan untuk menghilangkan jejak seperti yang dilakukan Ken Arok.

Keris Mpu Gandring pun kembali memakan korban atas dasar balas dendam. Setelah naik singgasana meggantikan Ken Arok, kali ini adalah Anusapati melampiaskan dendam. Sang Raja baru itu pun berhasil ditikam dengan keris Mpu Gandring saat menyabung ayam.

Keris Mpu Gandring, Pertumpahan Darah di Singasari
Arca yang menggambarkan sosok Ken Arok/Istimewa

Perebutan Trah

Sejarawan dari Universitas Negeri Malang,  Dwi Cahyono, menyebut bahwa pertumpahan darah di Singasari bukan semata-mata dendam atas pembunuhan. Lebih dari itu, pembunuhan demi pembunuhan itu juga sebagai pertarungan antara dinasti Tunggul Ametung dan Ken Arok.

“Itu drama berseri dari upaya wilayah timur Gunung Kawi, yaitu Tumapel-Singasari yang memisahkan diri dari cengkeraman Kediri,” ujar Dwi.

Dwi menguraikan sebelum menduduki siggasana Singasari, Ken Arok membangun kekuatannya di berbagai wilayah untuk menumbangan Raja Kediri, Kertajaya. Kediri luluh lantak setelah bertempur hebat dengan pasukan Ken Arok di Ganter pada 1222.

“Ken Arok naik tahta. Dia mendirikan Singasari sebagai kerajaan baru menggantikan Kediri. Jadi setelah tahun 1222 itu, Tumapel (yang kemudian menjadi ibu kota Singasari) yang dulu dikuasi Kediri, kini menjadi sebaliknya,” jelas Dwi.

Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama memberi tafsiran baru sejarah Singasari berdasarkan temuan Prasasti Mula Malurung. Menurut prasasti yang dibuat Kertanagara pada tahun 1255 itu,  Raja Kediri sesudah 1222 adalah keturunan Ken Arok (Singasari). Mereka adalah Bhatara Parameswara atau Mahesa Wong Ateleng, Gunung Bhaya alias Agni Bhaya, dan Tohjaya.

Mahesa Wong Ateleng adalah putra Ken Arok dengan Ken Umang. Ketika Wong Ateleng dinobatan sebagai penguasa di Kediri, Anusapati yang merasa sebagai putra sulung diam-diam menyimpan dendam. Sebab, seharusnya dia yang berhak.

Ketika akhirnya Anusapati tahu dirinya hanya anak tiri, dan ayah kandungnya, Tunggul Ametung, dibunuh oleh Ken Arok sekaligus ayah tirinya,da pu menyusun strategi untuk balas dendam. Dendamnya terbalas lewat tangan Ki Pangalasan.

Ken Arok terbunuh pada 1227, dan Anusapati merebut tahta Singasari. Kerajaan yang baru berdiri itu pun terbelah dua. Kediri dengan Mahesa Wong Ateleng sebagai raja, dan Singasari dibawah kuasa Anusapati.

Keris Mpu Gandring, Pertumpahan Darah di Singasari
Ilustrasi kehidupan masyarakat Singasari/Istimewa

Terciptanya Perdamaian di Singasari

Hampir separuh masa Kerajaan Singasari diwarnai dengan pertumpahan darah antar keluarga. Selain siasa-sisa keturunan Kertajaya alais Dandang Gendis, ada tiga trah yang saling dendam dan berebut kekuasaan, yaitu Ken Arok-Ken Dedes, Ken Arok-Ken Umang, dan Ken Dedes-Tunggul Ametung.

Terakhir adalah ketika Tohjaya yang berhasil merebut tahta Singasari dari Anusapati. Menurut Pararaton, masa pemerintahan Tohjaya tidak bertahan lama. Dia dijatuhhkan oleh Ranggawuni, anak Anusapati.

Bersekutu dengan Mahesa Campaka yang merupakan anak Mahesa Wong Ateleng, Ranggawuni berhasil membunuh Tohjaya dalam sebuah peperangan. Pada 1248 Ranggawuni menduduki singgasana Singasari dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana.

Ia kemudian menunjuk Mahesa Campaka menjadi ratu angabhaya atau pembantu utama raja yang berkuasa di Kediri. Mahesa Campaka menggantian ayahnya, Mahesa Wong Ateleng, dengan gelar Narasinghamurti.  Pada masa pemerintahan mereka, tak ada gejolak antara keturunan Ken Arok-Ken Dedes, Ken Arok-Ken Umang, dan Ken Dedes-Tunggul Ametung.

Masa kejayaan Singasari terjadi di masa pemerintahan Sri Kertanegara yang menggantikan ayahnya, Ranggawuni. Singasari berhasil membentuk Nusantara dengan memperluas wilayahnya hingga ke Melayu pada 1257.

Sri Kertanegara tumbang setelah pemberontakan yang dilakukan oleh bupati Gelang-Gelang, Jayakatwang, yak sebenarnya nasih sepupu, ipar, dan besannya sendiri. Di luar perhitugan kerabat itu, Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya, raja terakhir Kediri yang digulingkan Ken Arok, leluhur Kertanagara.(*)

Sumber : wikipedia


104 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.