Go Tik Swan, Nunggak Semi Batik Indonesia


Go Tik Swan, Nunggak Semi Batik Indonesia
Go Tik Swan/repro buku Jawa Sejati

Semasa hidupnya, periode 1950-2008, Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro menciptakan sekitar 200 motif batik. Ia memberi nama Batik Indonesia untuk batik-batik ciptaannya, di mana secara filosofi penciptaan menerapkan konsep nunggak semi, yaitu mengembangkan karya lama untuk karya-karya baru.

Nunggak Semi merupakan konsep dalam Bahasa Jawa yang artinya tonggak lama yang bersemi. Go Tik Swan mengambil dasar motif batik yang sudah ada, seperti Solo, Yogyakarta, Pekalongan, dan daerah lain, kemudian mengembangkannya menjadi sesuatu yang baru.

Bagi Go Tik Swan, batik bukan barang baru. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan segala macam proses membatik, mulai dari nyanthing, mewarnai, hingga membuat selembar mori menjadi kain batik.

Lahir dari keluarga Tionghoa Solo pada 11 Mei 1931, sejak kecil Go Tik Swan diasuh oleh kakeknya, Tjan Khay Sing yang memiliki empat tempat pembatikan dengan 1.000 karyawan. Jadi, tidak heran jika ia begitu dekat dengan dunia batik.

Dari karyawan batik kakeknya yang semuanya orang Jawa, Go Tik Swan belajar nembang macapat, aksara Jawa, dan pada gilirannya belajar tarian Jawa. Ia juga kerap mendengarkan buruh-buruh batik kakeknya itu mengisahkan cerita rakyat Jawa, seperti Dewi Sri, Jaka Tarub, dan Rara Jonggrang.

Pengalaman masa kecil itu membawanya menjadi seorang keturunan Tionghoa yang sangat memahami budaya Jawa. Terlebih ketika ia kuliah di Fakultas Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Indonesia, memberontak dari orangtuanya menginginkan kuliah di Fakultas Ekonomi. Ia tidak hanya menguasai batik, tapi juga tosan aji (senjata tradisional dari logam seperti keris dan tombak), gamelan, tembang-tembang Jawa,  arca purbakala, dan tari Jawa klasik.

Baca juga : Keris, Jangan Biarkan Mati Dua Kali

Bertemu Presiden Soekarno

Pembelotan itu sempat membuat orangtuanya marah. Ibunya, Tjan Ging Nio, yang juga pengusaha batik, serta ayahnya, Go Dhiam Ik -pengusaha garam yang menjadi orang kepercayaan Belanda, menginginkan Go Tik Swan menjadi penerus usaha. Tapi apa mau dikata, si sulung itu lebih memilih jalur seni dan budaya dibandingkan warisan bisnis.

Namun, takdir pada akhirnya membawa kembali Go Tik Swan ke dunia batik. Titik balik itu terjadi pada 1955, ketika Presiden Soekarno begitu terpukau dengan tari Jawa Gambir Anom yang dibawakan oleh Go Tik Swan di Istana Negara. Pada masa itu, bahkan sampai sekarang, adalah sangat mengagumkan seorang keturunan Tionghoa begitu luwes menarikan tarian Jawa.

Itulah pertemuan pertama keduanya secara langsung, dan sekaligus menjadi “cinta pada pandangan pertama” Bung Karno.  Sang Presiden menangkap ide persatuan dari Tionghoa (Go Tik Swan)  dan Jawa (Gambir Anom). Namun, Si Bung tidak ingin menggabungkan dua perbedaan itu dalam bentuk tarian, melainkan dalam desain batik. Soekarno tahu betul Go Tik Swan merupakan keluarga pembatik di Solo.

“Djo, (Hardjono), kamu kan dari keluarga pengusaha batik, mbok coba membuat untuk bangsa ini karya batik Indonesia. Bukan batik Solo, Yogya, Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan lain-lainnya, tapi batik Indonesia,” demikian permintaan Sang Presiden seperti dikutip dalam buku “Jawa Sejati, Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro” tulisan Rustopo.

Go Tik Swan pun memulai kembali petualangannya ke berbagai daerah sentra batik untuk mencari tahu corak dan motif batik yang akan dijadikan desain batik Indonesia.  Di Campuhan, Ubud, ia baru merasa mendapatkan bayangan terang benderang tentang desain batik Indonesia.

Ia kembali ke Solo, dan di rumah kakeknya ia memproduksi desain “Parang Bima Kurda” untuk Soekarno. Sejak itu mengalir desain-desain yang lain, seperti  Sawunggaling,  Radyo Kusumo, Kembang Bangah, Kuntul Nglayang, Parang Anggrek, dan Kutila Peksawani. Satu motif Parang Kusumo khusus ia ciptakan untuk Presiden kelima, Megawati Soekarno Putri.

Go Tik Swan/repro buku Jawa Sejati
Go Tik Swan/repro buku Jawa Sejati

Corak Surakarta dan Yogyakarta

Go Tik Swan mengambil corak klasik Keraton Surakarta dan Yogyakarta, kemudian memadukan dengan gaya pesisir (Pekalongan, Tuban, Lasem) baik dalam desain maupun pewarnaan. Warna sogan yang cenderung merah berpadu dengan multiwarna khas pesisir yang cerah. Desain batik Indonesia juga mengambil inspirasi dari batik Madura, Cirebon, dan tenun Bali.

Sepanjang hidupnya Go Tik Swan tidak menikah. Ia lebih memilih memberikan hidupnya untuk kepentingan sosial. Ia, mislanya, ikut merintis Yayasan Pendidikan Saraswati yang menjadi cikal bakal Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, juga menjadi kepercayaan Raja Surakarta, Paku Buwono XII, untuk memugar museum keraton.

Hingga akhirnya, Paku Buwono memberikan gelar tertinggi kerton kepadanya, yaitu Panembahan (Hardjonagoro). Ia merupakan orang Tionghoa pertama yang menerima gelar tertinggi itu. Go Tik Swan juga sebagai penerima penghargaan Putra Terbaik Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma tahun 2011 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (Baca juga : Kisah Ratu Beroek Menyelamatkan Tradisi Batik Solo)

Go Tik Swan meninggal 6 November 2008, dan dimakamkan di pemakaman desa Danyung sesuai dengan permintaannya. Padahal, ia mendapatkan hak dari Keraton Kasunanan Surakarta untuk dimakamkan di pemakaman kerabat keraton, Imogiri.

Melestarikan Batik Go Tik Swan

Kini, rumah kuno seluas 2.030 meter persegi milik Go Tik Swan di Jalan Yos Sudarso 176 Surakarta itu diwariskan kepada KRA Hardjosoewarno bersama istrinya, Supiyah Anggriyani, yang telah puluhan tahun mengabdi. Sepasang suami istri itu mempunyai kewajiban untuk menjaga sekaligus melestarikan batik, besalen, dan semua koleksi batik, keris, dan puluhan arca.

Pembuatan batik masih terus berjalan di rumah warisan itu. Setiap hari ada sekitar 6-7 pembatik. Semuanya wanita dengan usia rata-rata di atas 60 tahun. Menurut Supiyah, dia dan suaminya tidak memproduksi batik secara massal untuk menjaga kualitas. Semuanya dikerjakan dengan tangan, sehingga tidak heran jika satu lembar batik tulis butuh waktu empat sampai lima bulan untuk menyelesaikannya.  Rentang harga berkisar Rp 700 ribu hingga lebih dari Rp 10 juta per lembar.

“Setahun paling itu hanya bisa membuat 12 kain batik. Sebagian pesan, sebagian lagi untuk stok. Padahal desain karya Panembahan ada 200-an ,” ujar Supiyah.

Batik Indonesia karya Go Tik Swan banyak dikoleksi oleh pejabat negara, tokoh nasional,  pengusaha, dan para para duta besar. Sejumlah karya tangan Go Tik Swan bahkan menjadi koleksi museum-museum di Amerika, Eropa, Australia, serta berada di tangan kolektor batik dunia.(*)


104 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.