Kawin Ampyang dan Harmonisasi Tionghoa-Jawa di Solo


Kawin Ampyang dan Harmonisasi Tionghoa-Jawa di Surakarta
Lustrasi harmonisasi Tionghoa-Jawa/detik.com

Ini kisah tentang ampyang, harmonisasi dan kawin campur Tionghoa-Jawa di Solo. Sebuah kiniscayaan bahwa bagaimana sebenarnya kebhinekaan adalah sesuatu yang lumrah.

Annisa Lee namanya. Perawakannya tinggi dengan kulit agak gelap, rambut ikal melebihi bahu. Ia bersama dua teman baru saja menggotong arca yang lumayan besar, memindahkan dari altar ke tempat pemandian, di Klenteng Tien Kok Sie, Solo.

Sekarang nafasnya sedikit terengah. Dahinya berkeringat. Sepasang mata sipit itu mengercap-ercap, menghalau keringat yang membasahi matanya. Ia kemudian menyapu wajahnya dengan punggung tangan.

Sepintas saja, orang tahu kalau Annisa berbeda dengan gadis-gadis lain di klenteng itu. Terutama kulit yang agak gelap, juga rambut hitam ikal itu. Meski sama-sama memiliki mata yang sipit.

“Bapak saya Tionghoa, ibu asli Jawa. Terserah saya mau dibilang Cina atau Jawa, yang jelas saya orang Indonesia,” katanya.

Ia lalu bercerita. Bapaknya, Harry Liem, bertemu ibunya, Sri Sukesi, saat masih mahasiswa. Keluarga Sukesi sempat tidak setuju Sukesi dekat dengan Liem  karena Tionghoa. Namun,  Liem pintar membawa diri. Ia sangat santun dan menunjukkan sikap sungguh-sungguh. Keluarga Sukesi luluh.

Dua tahun setelah lulus kuliah, Liem dan Sukesi menikah pada 1997. Annisa lahir setahun setelah pernikahan mereka. Liem membuka jasa konsultan arsitek, dan Sukesi mengurus keuangan. Setelah lebih dari 20 tahun, Liem kini mengembangkan usaha property.

“Bagi kami tidak ada yang aneh dengan kawin campur. Ada dua agama di rumah, tapi kehidupan agama dan sosial normal-normal saja. Bukan hanya di keluarga, tapi juga di masyarakat,” ujar Annisa yang mahasiswi fakultas teknik sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

Toleransi

Menurut Annisa, mereka yang masih mempermasalahkan soal Tionghoa atau Jawa itu justru aneh. Akulturasi budaya, termasuk di Surakarta, adalah sebuah keniscayaan karena masyarakat datang dari berbagai latar belakang. Bukan hanya Tionghoa, tapi juga Arab, India, Madura, dan lainnya.

“Saya biaya dipanggil ampyang karena hasil kawin campur Tonghoa dan Jawa. Itu memang istilahnya. Bagi saya biasa saja. Panggil saja saya ampyang, tidak masalah,” tuturnya.

Kawin Ampyang dan Harmonisasi Tionghoa-Jawa di Surakarta
Lampion di Pasar Gede Solo/Liputan6.com

Bayu Herlambang juga memiliki cerita seperti Annisa. Ayahnya, Bambang Suseno, adalah orang Jawa asli Sukoharjo. Sementara ibunya, Santina Tan, keturunan Tionghoa dari Semarang. Bayu mengaku meski ada dua agama, namun masing-masing anggota keluarga sangat toleran.

“Di keluarga saya, Idulfitri, Natal, dan Imlek sama ramainya. Saat puasa, ibu memasak. Lalu SabTu atau Minggu bapak mengantar ibu ke gereja. Itu sudah berlangsung selama 30 tahun lebih. Kami keluarga bahagia,” ujar Bayu yang memiliki usaha periklanan di Jakarta.

Annisa dan Bayu hanya sedikit dari banyaknya pernikahan antaretnis. Di Surakarta, perkawinan Tionghoa dan Jawa disebut dengan kawin ampyang. Menurut tokoh Tionghoa Surakarta, Martono Hadinoto, istilah ampyang merujuk pada panganan yang dibuat dari gula merah dan kacang. Gula pada ampyang adalah simbol etnik Jawa, sedangkan kacang mewakili etnik Tionghoa.

“Ampyang itu sasanya manis. Seperti itulah sebenarnya hakekat keberagaman. Perbedaan itu sesuatu yang biasa,” kata Martono.

Kawin Campur

Martono menambahkan kawin ampyang tidak saja menyatunya dua orang, tapi juga bertemunya dua kebudayaan. Ampyang, kata dia, adalah contoh nyata dari akulturasi dan asimilasi antara kebudayaan Tionghoa dan Jawa.

Tak hanya dalam bentuk perkawinan, di Surakarta hubungan harmonis antara etnis Jawa dan Tionghoa juga terasa dalam skala sosial yang lebih besar. Salah satunya di Kelurahan Sudiroprajan yang merupakan kawasan pecinan.

“Sudiroprajan itu miniatur dari pertemuan dua budaya Tionghoa dan Jawa,” ujarnya.

Sejarawan Heri Priyatmoko menyebut etnis Tionghoa ada sejak Kota Surakarta berdiri pada 1746. Mereka sejak pertama tinggal di kawasan Sudiraprajan, dan memiliki hubungan harmonis dengan masyarakat asli serta kaum pendatang lain, keturunan Arab, di Pasar Kliwon.

Di masa pemerintahan Raja Surakarta, Paku Buwono X (1893-1939),  mereka ditempatkan di Kampung Balong,  belakang Pasar Gede. Alasannya adalah untuk menghidupkan perdagangan rakyat di kawasan itu.

“Sejak itu, terjadilah pembauran etnis, dan budaya secara alami antara Tionghoa dan Jawa di Balong. Itu terjadi awal tahun 1900-an. Akulturasi itu kemudian menjadi kiblat bagi kampung-kampung pecinan lain di Kelurahan Sudiroprajan, misalnya Kepanjen, Kentandan, Limolasan, dan Mijen,” jelas Heri.

Multikultural

Di Kelurahan Sudiroprajan, pembauran, toleransi agama-budaya antara Jawa-Tionghoa bukan sesuatu yang istimewa. Perbedaan etnis, budaya, dan agama tidak menjadi sekat untuk saling berinteraksi.

Banyak di antara mereka yang kemudian melakukan kawin campur dan beranak pinak. Dari kampung pecinan itulah lahir keluarga multi etnis, multi budaya, dan multi agama hingga keturunannya.

“Di Balong, Mijen, Limolasan, Kepanjen dan lainnya di Sudiroprajan ini sebagian besar warganya melakukan kawin ampyang. Itu sudah  biasa. Sudah ada sejak dulu,” kata Lurah Sudiroprajan, Dalima.

Kerekatan multikultural antara Jawa dan Tionghoa di kampung-kampung pecinan di Surakarta telah banyak melewati ujian. Sejarah mencatat terjadi sebanyak 15 konflik horizontal rasial Jawa-Tionghoa di Surakarta. Dua kerusuhan rasial terbesar terjadi pada 1980 dan 1998.

“Tapi semua sudah berlalu.  Lagi pula, kerusuhan itu bukan dari orang Solo (Surakarta) sendiri, tapi karena pihak luar,” ujar Dalima. (*)


103 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.