Jejak Pemilu Indonesia dari Masa ke Masa


Jejak Pemilu Indonesia dari Masa ke Masa
Istimewa

Pemilu Indonesia tahun 2019 akan digelar serentak pada 17 April. Sejak digelar pertama kali pada tahun 1955, pesta demokrasi lima tahunan ini selalu menjadi perhelatan politik yang heboh.  Tahun ini merupakan Pemilu yang ke-12 sejak Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 lalu. Sebanyak 14 partai politik (parpol) akan mengikuti pesta yang gegap-gempita ini.

Berikut ini jejak Pemilu Indonesia dari masa ke masa sejak pemilu pertama pada 1955 lalu:

Pemilu 1955

Inilah Pemilu pertama di Indonesia. Pemilu tahun 1955 berlangsung dalam dua tahap, memperebutkan 260 kursi untuk DPR dan 520 untuk Konstituante. Ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat oleh pemerintah.  

Tahap pertama digelar pada 29 September, untuk memilih anggota DPR. Sedangkan tahap kedua, 15 Desember, pemilu untuk memilih anggota Dewan Konstituante (sekarang MPR). Lembaga ini bertugas membentuk Undang-Undang Dasar baru menggantikan UUD Sementara (UUDS) 1950.

Pelaksana pemilu Indonesia kali ini menggunakan sistem proposional atau sistem berimbang. Artinya, kursi yang ada dibagi kepada partai politik peserta pemilu sesuai dengan perolehan suara yang didapat. Pemilu pertama ini diikuti sebanyak 172 parpol dengan 15 daerah pemilihan.

Banyak yang menilai Pemilu Indonesia tahun 1955 merupakan pemilu yang paling demokratis dengan  tingkat partisipasi pemilih cukup tinggi. Saat itu, suara sah mencapai 88 persen dari 43 juta pemilih. Hanya 12, 34 persen suara pemilih yang tidak sah.

Empat partai politik besar mendominasi suara Pemilu Indonesia 1955. Keempat parpol itu adalah Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Masyumi,  Nahdlatul Ulama, dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pemilu 1971

Pemilu Indonesia yang kedua ini diselenggarakan pada 5 Juli 1971. Inilah pemilu pertama di masa Pemerintahan  Presiden Soeharto (Orde Baru). Sebanyak 10 partai politik dan satu golongan (Golkar) mengikuti pemilu 1971 ini.

Tiga parpol pada Pemilu 1955 tidak ikut karena dibubarkan, yaitu Masyumi, Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sama seperti pemilu sebelumnya, Pemilu 1971 menerapkan sistem proporsional dengan daftar tertutup dan semua kursi terbagi habis di setiap daerah pemilihan.

Golkar memenangi pemilu setelah meraup 62,8 persen suara (236 kursi DPR), disusul  Nahdlatul Ulama (NU), Parmusi, Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Partai Syarikat Islam Indonesia.

Banyak pakar politik menilai Pemilu 1971 mengabaikan indikator sebuah pemilihan umum demokratis. Bisa jadi karena Indonesia masih dalam proses transisi kepemimpinan setelah tragedi G30S PKI. Militer begitu kuat melakukan represi demi menjaga dan mempertahankan kekuasan.

Jejak Pemilu Indonesia dari Masa ke Masa
Parpol peserta Pemilu 1977/Istimewa

Pemilu 1977

Pemilu Indonesia 1977 digelar pada 2 Mei diikuti oleh tiga partai politik, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan Golongan Karya (Golkar). Sistemnya sama dengan pemilu sebelumnya, proporsional.

Dua tahun sebelum pemilu (1975),  Pemerintah dan DPR mengeluarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. Isi undang-Undang itu pada intinya mengatur soal penggabungan partai politik.

Dari 9 parpol pada Pemilu Indonesia 1971 dipangkas menjadi dua parpol. Partai-partai Islam melebur dalam PPP, sedangkan parpol dengan ideologi nasional masuk ke dalam PDI. Kedua patai politik ini bertarung dengan Golkar. Kondisi Pemilu sesudahnya tidak jauh berbeda. Tiga peserta pemilu itu terus-menerus mewarnai pemilu berikutnya, 1982 hingga 1997. Pemenang pemilu pun sama; Golkar.

Mulai 1977 hingga 1997, Pemilu diikuti dua parpol, PDI dan PPP, serta Golkar. Pemilu 1997 merupakan pemilu terakhir di masa Orde Baru, diselenggaraakan pada  29 Mei. Inilah pemilu yang banyak menuai protes karena banyaknya kecurangan. Surat suara sah Pemilu 1997 mencapai 113 juta.

Pemilu 1999

Presiden Soeharto jatuh pada Mei 1998 oleh aksi demonstrasi besar-besar mahasiswa. Pasca jatuhnya Soeharto membawa Indonesia masuk dalam era reformasi. Pemilu Indonesia 1999 digelar pada 7 Juni di bawah pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Dari 141 partai politik yang terdaftar di Kementrian Hukum dan HAM, hanya  48 parpol yang lolos verifikasi dan ikut pemilu. Setelah reformasi 1998, Golkar mengubah format organisasi dari golongan menjajadi menjadi parpol.

Partisipasi pemilih pada Pemilu Indonesia 1999 mencapai 105.786.661 suara (94.63) persen dengan angka Golput sekitar 5,37 persen. Jumlah itu dibagi sesuai dengan total 462 kursi di parlemen.     

Akibat konflik internal, PDI pecah dan berujung pada Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli). Megawati Soekarno Putri akhirnya mendirikan PDI Perjuangan (PDIP) untuk membedakan PDI pimpinan Suryadi. Pemilu ini melahirkan PDIP sebagai pemenang (33 persen). 

Namun, meski memenangi Pemilu 1999, pemilihan presiden justru dimenangi oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Megawati sebagai Ketua Umum PDIP hanya menjadi wakil presiden.

Pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan MPR melalui voting, bukan pemilihan langsung. Dua tahun menjadi presiden, Gus Dur dilengserkan oleh MPR. Otomatis Megawati diangkat menjadi Presiden Indonesia kelima.

Jejak Pemilu Indonesia dari Masa ke Masa
Pasangan Capres-cawapres Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla pada Pilpres 2004

Pemilu 2004

Pemilu Indonesia tahun 2004 merupakan tonggak demokrasi Indonesia karena rakyat memilih anggota DPR, Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Pemilu yang digelar pada tanggal 5 April ini untuk memilih 550 anggota DPR RI, 128 anggota DPD, dan anggota DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota. Pemilihan presiden dan wakil presiden digelar pada tanggal 5 Juli (putaran I) dan 20 September (putaran II).

Inilah untuk pertama kali rakyat Indonesia memilih pasangan presiden-wakil presidennya secara langsung. Sistem pemilu tetap menerapkan sistem proporsional dengan Daftar Calon Terbuka di mana pemilihan mengikuti jatah kursi di setiap daerah pemilihan.

Pemilihan anggota parlemen menggunakan sistem Proporsional dengan varian Proporsional Daftar (terbuka). Sedangkan untuk anggota DPD menggunakan sistem Single Non Transverable Vote (SNTV). Sementara pemilhan presiden-wakil presiden menggunakan sistem Mayoritas/Pluralitas dengan varian Two Round System (dua putaran).

Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla memenangi pemilihan presiden dan wakil presiden, mengalahkan empat pasangan lain, yaitu Hamzah Haz-Agum Gumelar, Amien Rais-Siswono Yudohusodo, Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, dan Wiranto-Salahuddin Wahid.

Angka golput di Pemilu Legisalatif  tahun 2004 cukup besar, yaitu lebih dari 23 juta suara (16 persen) dari jumlah pemilih terdaftar sebanyak 148 juta pemilih.

Pemilu 2009

Pada Pemilu Indonesia tahun 2009, Susilo Bambang Yudhoyono kembali terpilih sebagai presiden berpasangan dengan Boediono.  Digelar secara serantak pada tanggal 9 April, pemilu kali ini untuk memilih 560 Anggota DPR, 132 Anggota DPD, serta anggota DPRD (Provinsi/ Kabupaten/Kota. Pemilihan presiden dan wakil presiden digelar pada 8 Juli dengan satu putaran.

Pemilu Indonesia 2009 diikuti sebanyak 38 parpol dengan partisipasi terdafar sebanyak 171 juta pemilih, namun hanya sekitar 121 juta yang menggunakan hak pilih. Dari angka ini, suara sah tercatat sebanyak 104 suara. Angka golput mencapai hampir 50 juta suara (30 persen), merupakan angka terbesar sepanjang pemilu di Indonesia.

Parpol memperebutkan 560 kursi di parlemen yang hasilnya mayoritas kursi diisi oleh Partai Demokrat (150 kursi), Partai Golkar (107 kursi), dan PDI Perjuangan (95 kursi). Susilo Bambang Yudhoyono kembali terpilh menjadi presiden  dengan perolehan  60,80 persen suara dalam satu putaran. 

Jejak Pemilu Indonesia dari Masa ke Masa
Pasangan Pilpres 2014/Istimewa

 

Pemilu Indonesia 2014

Pemilu Indonesia tahun 2014 diselenggarakan pada 9 April, memilih 560 anggota DPRI, 132 anggota DPD, dan anggota DPRD Provinsi/ Kabupaten/Kota. Pemilu kali ini diikuti oleh 15 partai politik. Sedangkan pemilihan Presiden berlangsung pada 9 Juli.

PDI Perjuangan memenangi Pemilu Indonesia 2014 setelah meraih 23.681.471 suara, disusul Partai Golkar (18.432.312 suara), dan Partai Gerindra (14.760.371 suara). Pemilu 2014 diikuti oleh dua pasangan presiden-wakil presiden, Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla, dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Pilpres 2014 sempat dikacaukan oleh hasil quick count sejumlah lembaga survey. Pasangan Prabowo-Hatta bahkan sempat mengumumkan kemenangannya. Di pihak lain, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla pun melakukan hal yang sama.

Kedua kubu yang tengah bertarung itu saling klaim memenangkan pilpres. Kubu Prabowo-Hatta menyatakan menang berdasarkan penghitungan cepat 4 lembaga survei, yaitu Indonesia Research Center (IRC), Jaringan Suara Indonesia (JSI), Puskaptis, dan Lembaga Survei Nasional (LSN).

Kubu Jokowi-JK tidak mau kalah. Mereka mengklaim kemenangan dengan dasar hasil quick count 7 lembaga survei, yaitu Litbang Kompas, CSIS Cyrus Network, Radio Republik Indonesia (RRI), Lingkaran Survei Indonesia (LSI),  Saiful Mujani Research Center (SMRC), Populi Center, dan Indikator Politik Indonesia.

Klaim dua kubu pasangan capres-cawapres itu membuat rakyat bingung. Ada pula kekhawatiran bahwa perbedaan tersebut akan menimbulkan gesekan di antara pendukung dua kubu.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya menyatakan pasangan capres-cawapres nomor urut dua, Joko Widodo-Jusuf Kalla, unggul atas pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dari penghitungan suara di 33 provinsi dan luar negeri, Jokowi-JK meraup 70.997.833 suara (53,15 persen). Pasangan Prabowo-Hatta meraih 62.576,444 suara (46,85 persen).

Akankah keriuhan Pilpres 2014 terulang kembali, atau bahkan lebih seru, pada April 2019 mendatang? Mengingat Pilpres tahun ini tetap menyajikan dua capres yang sama seperti pada Pilpres 2014, Jokowi bersama Ma’ruf Amin, dan Prabowo bersama Sandiaga Uno. (*)

 

Baca juga: Pemilu 1955, Pemilu Pertama yang Fenomenal


104 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.