Kisah Ratu Beroek Menyelamatkan Tradisi Batik Solo


Pengrajin batik Solo/Ganug Nugroho Adi
Pengrajin batik Solo/Ganug Nugroho Adi

Malam semakin tua. Langit begitu pekat tanpa cahaya.  Dalam kegelapan, tiba-tiba secarik cahaya melintas. Begitu cepat begitu singkat. Melintas dari sisi kiri bangsal Kamandungan, kemudian melengkung melintasi Sasono Sewoko. Hingg akhirnya menuju kaputren di ujung keraton.

Dari ruang tengah Sasono Sewoko, raja itu berjalan menuju pendapa. Ini untuk yang kedua kalinya Sinuhun Paku Buwono III (1749-1788) menyaksikan cahaya itu. Sebelumnya,  sembilan atau sepuluh tahun lalu, sang raja juga menyaksikan cahaya serupa. Ketika itu secarik cahaya melengkung, melintasi langit, lalu berpendar-bendar sangat terang dan berhenti di sekitar kandang  gajah yang letaknya jauh di timur istana.

Raja tidak tahu sedang membawa pertanda apa cahaya yang berpendar dengan sangat terang itu. Penasaran, tengah malam itu tanpa pengawal sang raja bergegas menuju arah cahaya, hingga akhirnya berhenti di rumah Wirorejo, seorang abdi dalem kinasih atau kesayangan almarhum ayahnya, Sinuhun Paku Buwono II.

Sang Raja masih termangu berdri di tempatnya, memandangi cahaya yang berpendar-pendar mirip nebula, melingkarii langit di atas rumah Nyi Wirorejo.  Ia tahu, istri si abdi dalem sedang hamil tua.

Lalu bisikan itu terdengar pelan, mengalir mengikuti irama angin yang sepoi, membawa pesan agar sang raja  kelak  membawa  bayi yang bakal lahir dari rahim Nyi Wirorejo ke keraton. Bisikan itu begitu nyata. Maka saat itu juga sang raja mengetuk rumah abdi dalemnya, dan menitahkan agar kelak jika si jabang bayi lahir mengabarinya.

Sepekan kemudian. Si jabang bayi lahir dan Sang Raja memberi nama Beroek  yang artinya wadah semacam mangkuk yang terbuat dari batok kelapa. Konon, ketika si jabang bayi lahir, Sang Raja sedang minum air kelapa.

Sembari memberikan nama, Paku Buwono kembali berpesan kepada Nyi Wirorejo, jika kelak Beroek sudah akil balik agar segera diantarkan ke istana;   menawa wancine jabang tapih, hunjukna malebu (kedaton, keraton –masuk keputren). Jika seorang perempuan diminta raja masuk keraton, maka artinya pada saatnya nanti ia akan diambil sebagai selir raja.

Itu peristiwa sembilan atau 10 tahun lalu. Kini, Sang Raja masih terjaga. Ia kembali menengok keluar, ke arah cahaya yang tadi berpendar sangat terang di keputren. Ia tahu, saatnya bagi Beroek akan segera tiba.

Rara Beroek memang bukan perempuan biasa. Tubuhnya jangkung berisi, dengan kulit warna kuning gading yang bersih dan mencorong, bersinar. Sejak pindah dari rumah orang tuanya di Gajahan ke keputren, Rara Beroek memang pintar menyesuaikan diri. Terutama ketika para emban cethi (abdi permaisuri, istri utama raja), mengajari tata krama keraton, unggah-ungguh,  olah rasa dan olah jiwa budaya serta kesenian keraton, seperti  menari, nyinden, dan membatik.

Dari waktu ke waktu, Beroek semakin membuat kagum semua orang. Pelan-pelan, ia mulai menunjukkan bahwa dirinya bukan seperti perempuan kebanyakan, meski ia berasal dari orang tua jelata, yang bekerja di istana sebagai jaga swara (tukang nembang, menyanyi).

Rara Beroek memang berasal dari keluarga biasa. Ayahnya, Wirorejo, hanyalah seorang abdi pada zaman Paku Buwono II dengan pangkat Ngabehi. Saat sang raja menyingkir ke Ponorogo, karena terdesak oleh  pasukan Mangkubumi dan Pangeran Sambernyowo  yang berseteru dengannya, Ngabehi Wirorejo  menyingkir ke Semarang. Di kota ini, Wiorejo bertemu dengan seorang janda beranak satu, yang mengabdi kepada seorang tuan Belanda, Mr Smith.

Ketika keraton Surakarta mulai tenang, dan Paku Buwono II digantikan oleh putra mahkota, Paku Buwono III, Ngabehi Wirorejo kembali ke Solo  sambil membawa istrinya yang hamil tua. Kelak, dari perempuan inilah Beruk lahir. Sebab, sesampai di Solo, Ngabehi Wirorejo mengambil istri lagi, seorang perempuan putri pamannya sendiri, Wirojoyo.

Rara Beroek mulai mengusik ketenangan hati baginda.  Tak disangka, bayi yang 13 tahun lalu ia namai sendiri kini telah menjelma menjadi gadis muda yang ranum, wajahnya lonjong  mempesona. Di pendapa Sasono Sewoko, untuk kesekian kalinya  sang raja gundah.  Cahaya itu begitu terangnya muncul dari keputren.   Ia harus segera bertindak, tapi bagaimana caranya agar tak begitu menyolok mata bahwa ia sangat menginginkan gadis itu?

Taktik itu akhirnya datang juga. Malam menjelang pagi, sang raja menyusup ke dalam keputren, setelah sebelumnya membuat seluruh penghuni dan penjaga keputren terlelap. Ia masuk bilik, dan para gadis jelita itu tidur berjajar dalam satu ranjang panjang. Sekali pandang. Sang raja tahu di mana posisi Rara Beroek. Dengan secepat kilat, ia menyobek ujung jarik Rara Beroek sebagai tanda, lalu bergegas meninggalkan keputren.

Paginya, sang raja berpura-pura menanyakan ke para emban cethi tentang gadis mana gerangan di antara anak asuhnya yang jariknya sobek semalam. Tapi sebelum emban cethi mengumpulkan para anak asuhnya, permaisuri Kanjeng Ratu Hemas sudah tahu apa kehendak raja, dan  gadis yang diinginkannya. Maka, sang prmaisuri pun segera menyuruh emban cethi membawa Rara Beroek menghadap.

“Saya sudah siapkan semuanya, Sinuhun, termasuk upacara pengangkatan  Rara Beruk menjadi priyantun dalem (selir),” kata Ratu Hemas sambil menghaturkan sembah.

Di depannya, Sinuhun memandang permaisurinya dengan perasaan gamang.

Pengrajin batik Solo/Ganug Nugroho Adi
Pengrajin batik Solo/Ganug Nugroho Adi

Asmara Bunga Tanjung

Duduk di bawah tiang keputren, di antara angin yang bertiup pelan dari pohon-pohon tanjung di luar sana,  Rara Beroek begitu asyik dengan canthing di tangannya. Sesekali jari lentik perempuan jelita itu mencelupkan canthing ke wajan kecil berisi malam yang mendidih, meniup ujung canthing, lalu menggoreskannya kembali ke kain lebar di depannya.

Sejak masuk ke keputren beberapa tahun lalu, ia memang sangat senang jika  para emban cethi mengajarinya membatik. saking senangnya dengan pelajaran membatik, sering ia mencuri waktu untuk sekadar mencoretkan canthing di sela-sela pelajaran yang lain, seperti nembang macapat atau menari srimpi.

Di serambi itu, Rara Beroek terus saja mengguratkan canthing, seperti tak terusik dengan suara gaduh burung-burung merpati yang mematuki pasir  halaman keputren.

“Ah, sebentar lagi batik ini akan selesai,” gadis itu seperti bergumam pada dirinya sendiri.

Sebuah motif batik yang indah baru saja selesai. Di atas kain hitam legam itu, bunga-bunga tanjung yang keemasan seperti bertebaran. Entah  dari mana Rara Beroek mendapat ide gambar yang demikian menawan itu. Rara Beroek sendiri pun tak tahu, bagaimana persisnya ia menciptakan gambar-gambar yang mempesona itu. Dan ketika melihat gambar di atas kain jarik hitam itu, sang raja pun tergoda untuk menanyakan asal mulanya.

“Saya tidak tahu, Sinuhun. Saya hanya menggambar bunga-bunga tanjung yang jatuh ke pasir di halaman keputren ini. Saya bahkan belum sempat memberi nama gambar batik ini.”

Sang Raja terdiam sebentar. Lalu ia tersenyum, seperti baru saja mendaatkan wangsit.

“Namailah gambarmu itu truntum. Bunga-bunga itu seperti sedang menggambarkan perasaan sayangku kepadamu yang semakin nruntum (tumbuh berkembang) di hatiku.”

Wajah Rara Beroek memerah mamu. Tapi, konon, demikianlah awal mula nama batik motif truntum yang terkenal itu diciptakan. Truntum yang secara harfiah mempunyai makna bersemi ini, konon  sebagai ekspresi hati baginda yang sedang berbunga-bunga. Batik motif truntum sendiri berupa gambar tebaran bunga tanjung keemasan, dengan dasar kain hitam legam. Motif ini juga mempunyai makna filosofi lain, yaitu manusia tidak akan lepas dari kegelapan, tapi setidaknya selalu ada terang dari bintang-bintang.

Rara Beroek pada akhirnya menunjukkan diri bukan sekadar selir biasa. Selain cerdas dan cekatan, perempuan anak jaga swara ini  juga pintar melayani raja. Hingga suatu hari Sinuhun memintanya menjadi permaisuri kedua, setelah Kanjeng Ratu Hemas.

Konon, Rara Beroek menyanggupi permintaan raja. Ia mengajukan syarat, kelak putranyalah yang diangkat menjadi putra mahkota. Sebab, setelah bertahun-tahun, menjadi permaisuri pertama, Kanjeng Ratu Hemas tidak juga memberinya keturunan. Paku Buwono III sendiri sudah memiliki 16 anak, namun semuanya lahir dari para selir.  PB III menyanggupi permintaan Rara Beruk. Sebab, bagaimanapun juga seorang raja perlu putra mahkota.

Dari Rara Beroek –setelah menjadi permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kencono- PB III memiliki seorang putra, Kanjeng Pangeran Purboyo, yang kelak menjadi Paku Buwono IV (1788).

Peran besar Rara Beroek terlihat ketika Kasunanan Surakarta pecah menjadi dua melalui  lewat perjanjian Giyanti tahun 1755. Sesuai perjanjian, Mataram Surakarta harus dibagi menjadi dua. Bukan hanya pundi-pundi emas, permata, dan pusaka, tapi juga kekayaan seni budaya. Celakanya, seluruh koleksi batik Keraton Kasunan Surakarta dibawa ke keraton baru, Kasultanan Yogyakarta.

Di sinilah peran Rara Beroek. Pengetahuan dan perhatiannya yang besar terhadap batik menjadikan permaisuri kedua Paku Buwono III ini berperan penting membawa tradisi membatik ke dalam lingkungan keraton.

Lewat Rara Beruk, tradisi membatik yang biasanya dilakukan di luar keraton mulai disebarkan ke para abdi dalem. Menariknya, gaya dan motif batik tradisi baru ini sangat berbeda dengan batik-batik sebelumnya.

Batik-batik tradisi baru ini menjadi  khas Solo, berbeda sekali dengan motif batik pendahulunya yang mulai muncul pada zaman Nyi Ageng Genis, leluhur mataram yang tak lain ibu dari Ki Ageng Pamanahan. Jika batik Genis lebih mengarah pada gaya geometris, maka batik solo tradisi Rara Beroek lebih menekankan pada bulatan. (*)


104 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.