Koes Plus: The Legend Musik Indonesia


KoesPluskp
Koes Plus

Koes Plus adalah kisah tentang sebuah band yang menginspirasi. Hari itu, Selasa, 29 Juni 1965, Koestono, Koesnomo, Koesjono dan Koesrojo ditangkap sejumlah tentara dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) atas perintah Presiden Soekarno. Anak-anak pasangan Raden Koeswoyo dan Rara Atmini itu dianggap menentang pemerintah.

Alasannya, mereka terus-menerus menyanyikan lagu-lagu The Beatles yang ngak ngik ngok lewat grup band mereka, Koes Bersaudara. Kelak, empat anak muda itu lebih dikenal dengan nama Tonny, Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo.

Menurut Bung Karno, lagu-lagu The Beatles membawa pengaruh buruk generasi muda Indonesia. Gaya musik yang rock and roll dan kebarat-baratan tidak sesuai dengan budaya timur. Tidak sampai bulan, atas perintah Bung Karno pula, mereka dibebaskan dari penjara Glodok.

Koes Bersaudara mengawali kisah panjangnya dari band Teen Ager’s Voice bentukan Tonny tahun 1952 bersama Sophan Sophian dan jan Mintaraga. Shopan kemudian dikenal sebagai bintang film dan politisi, sedangkan Jan menjadi  komikus. Teen Ager’s Voice berganti menjadi Koes Brothers, dan nama Koes Bersaudara digunakan selang delapan tahun kemudian.

Koestono, Koesnomo, Koesjono dan Koesrojo adalah empat anak dari sembilan anak keluarga priyayi asal Tuban, Jawa Tibur, Raden Koeswoyo dan Rara Atmini. Putri pertama mereka, Soemartijah (Tituk), meninggal sewaktu masih bayi. Tiga anaknya yang lain adalah Koesdjono (Djon), Koesdini (Dien), Koestami (Miyiek), dan Koesmurni (Nienuk).

Koeswoyo menginginkan semua anaknya menjadi sarjana, dan bekerja di pemerintahan. Tidak ada bayangan anak-ananya akan menjadi pemusik. Meski dirinya sangat gemar bermusik, dan piawai memainkan gitar dan mandau. Koeswoyo bahkan pernah punya perkumpulan musik Tuban Bond yang anggotanya guru-guru Hollands Inlanders Schools, teman-temannya.

Koes Bersaudara

Di antara anak-anak Koeswoyo, Tonny memang paling menonjol dalam bermusik. Tonny pula yang mengajari Nomo, Yon, dan Yok bermain alat musik dan bernyanyi. Namun, Koeswoyo tetap tidak menginginkan anak-anaknya menjadi seniman. Di tengah larangan bermain musik sang ayah, kakak Tonny, Djon, membantu dengan membelikan gitar karena hanya dialah yang sudah memiliki pekerjaan tetap.

Djon sangat mendukung adik-adiknya dalam bermusik. Dia sempat bergabung pada formasi pertama Koes Bersaudara, namun lebih memilih pada pekerjaannya.

Kembali ke Koes Bersaudara. Setelah dipenjara, Koes Bersaudara semakin menggila. Lebih dari 20 lagu-lagu mereka -sebagian besar ciptaan Tonny Koeswoyo- menggempur lagu-lagu Rahmat Kartolo yang pada masa itu sedang dalam puncak keemasan. Koes Bersaudara semakin dikenal.

Undangan pentas pentas mengalir. Agustus 1966, Koes Bersaudara bahkan menggelar show keliling Jawa dan Bali.  Anak-anak muda pada masa itu merasa tidak modern jika belum mendengarkan atau menyanyikan single Koes Bersaudara, seperti  Bis Sekolah, Di Dalam Bui, Telaga Sunyi, dan Dara Manisku.

Namun, di tengah tangga menuju kejayaan,  terjadi konflik internal yang berujung pada perpecahan. Nomo memilih keluar karena tidak bisa total untuk band-nya di penghujung tahun 1968.

Tony pun merekrut jebolan band Patas, Kasmury (Murry) sebagai drummer menggantikan Nomo. Nama Koes Bersaudara pun berganti menjadi Koes Plus pada tahun 1969 karena ada orang lain di luar keluarga besar Koeswoyo. Formasi Koes Plus menjadi Tonny, Yon, Yok, dan Murry.

Koes Plus
Koes Plus
Nasib baik Koes Bersaudara ternyata tidak otomatis diterima Koes Plus. Meski sudah rekaman, namun lagu-lagu yang direkam di Irama Record tidak laku keras.

Murry yang frustasi bahkan sempat pulang ke kampung halamannya di Jember, Jawa Timur, dan membagikan kaset-kaset Koes Plus yang dibawanya secara gratis. Dari pembagian kaset gratis itu, lagu-lagu Koes Plus justru mulai dikenal. Hingga akhirnya, Koes Plus benar-benar dikenal secara luas saat single Kelelawar diputar di RRI.

Album Koes Plus Meledak

Koes Plus segera meraih simpati publik musik Indonesia. Album pertama disusul dengan album ke 2 yang berisi lagu-lagu antara lain, Kisah sedih dihari Minggu, Andaikan kau datang, Hidup yang sepi, dan Rahasia hatiku. Kaset dan piringan hitam mereka laris, terutama ketika pindah ke label Remaco pada 1973.

Seperti melanjutkan nasib baik Koes Bersaudara, Koes Plus pun menjadi band paling populer, melesat melampaui band-band yang lebih dulu populer pada masa itu, seperti Panbers (1969), D’lloyd (1969), Bimbo (1967), AKA (1967), The Rollies (1967), dan The Mercys (1965). Lagu-lagu Koes Plus selalu meledak, kaset-kasetnya terjual laris manis, dan show-nya selalu dibanjiri oleh penonton.

Pada 1977 Koes Plus sempat vakum. Nomo reuni mengisi kekosongan dengan kembali bergabung sebagai drummer, dan Murry membentuk grup band sendiri, Murry’s Group. Nomo seperti menghidupkan kembali roh Koes Bersaudara. Album bertajuk Kembali meledak. Namun, kembalinya Nomo tidak berlangsung lama. Koes Plus kembali mengeluarkan album bersama Murry.

Ketenaran Koes Plus seperti membuka pintu untuk cucu-cucu Koeswoyo. Setidaknya,  nama-nama penyanyi cilik era 1970-an, seperti Chica dan Helen Koeswoyo (putri Nomo Koeswoyo), serta Sari (putri Yok Koeswoyo) ikut mewarnai lagu anak-anak pada masa itu.

Ketika Remaco gulung tikar poda 1980, Koes Plus rekaman dengan Purnama Records. Dari label inilah lahir lagu-lagu hit seperti Bersama Lagi, Melati Biru, dan Cubit-Cubitan. Era tahun 1980-an Koes Plus mulai surut dengan munculnya lagu-lagu sendu yang dibawakan Iis Sugianto, Christine Panjaitan, dan Ebiet G Ade.

Namun, di tengah pamor yang mulai menurun, Koes Plus masih menelurkan beberapa album, antara lain Asmara (1981), Da Da Da (1983), ataupun Cinta Di Balik Kota (1987). Mereka juga masih kerap muncul di TVRI.

Tonny Koeswoyo Meninggal

Pamor Koes Plus benar-benar jatuh ketika motor mereka, Tonny Koeswoyo, meninggal dunia pada 1987. Kepergian Tonny membuat masa kejayaan Koes Plus meredup. Band itu sempat mengalami bongkar pasang pemain. Setidaknya beberapa nama pernah mengisi formasi ban legendaris ini, antara lain Abadi Soesman, dan Damon Wicaksi Wangsa Koeswoyo (anak ketiga Tonny).

Formasi ini sempat menelurkan album AIDS (1987), dan Pop Melayu Amelinda (1991). Namun, penjualan album-albumnya tidak lagi meledak seperti pada era kejayaannya tahun 1970-an.

Namun, pada tahun 1993 band legendaris ini membuktikan bahwa mereka masih memiliki penggemar  dengan berbagai show come back. Tahun 1994, Koes Plus bersama Damon merilis album Tak Usah Kau Sesali yang cukup laris.

Album-album berikutnya digarap dengan melibatkan beberapa musisi seperti ian Antono, Dedy Dores, dan Abadi Soesman. Koes Plus sebagai band benar-benar surut ketika sekitar tahun 1996 Yok Koeswoyo mengundurkan diri, dan memilih sebagai petani di Banten. Murry menyusul dengan memilih kembali bersama Murry’s Group.  Yon-lah yang kemudian sendirian berusaha mengibarkan bendera Koes Plus.

Namun, perjalanan Koes Plus tampaknya akan benar-benar terhenti ketika Yon yang tak pernah lelah menjaga nama band legendaris itu  menghembuskan nafas terakhirnya pada Jumat Subuh, 5 Januari 2018 di usia 77 tahun, menyusul kakaknya, Tonny, dan juga Murry yang lebih dulu meninggal dunia pada 2014 lalu.

Apapun, Koes Plus telah melegenda. BASF melegitimasi status itu dengan memberikan Penghargaan Legend Awards pada 1992. Sepanjang perjalannya, Koes Plus (dan Koes Bersaudara) melahirkan sekitar 450 lagu yang sebagian besar di antaranya hit. Sampai saat ini, lagu-lagu Koes Plus masih sering menghiasai acara-acara musik Golden memori atau Tembang Kenangan.

Koewoyo senior, sang ayah yang pada awal-awal melarang anak-anaknya membentuk band, bahkan ikut menciptakan sekitar 20 lagu. Beberapa yang populer adalah Oh Kasihku, Muda Mudi, Jangan Bimbang Ragu, dan Layang Layang. Fakta yang tak bisa dipungkiri, pada masanya keluarga Koeswoyo ikut mewarnai blantika musik Indonesia.(*)


104 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.