Mengintip Pengajaran Bahasa Daerah Digital di Surabaya


Belajar Pengajaran Digital di Internet dari Surabaya
Gita, guru SMPN 40 Surabaya membuat materi mata pelajaran Bahasa daerah yang nantinya diunggah ke Youtube/Ganug Nugroho Adi

Menyampaikan mata pelajar kepada siswa tidak terbatas di ruang-ruang kelas. Para guru SMP di Surabaya mulai merintis mata pelajaran digital melalui internet, baik website, literasi digital, dan Youtube. Mereka melakukan terobosan pengajaran mengikuti perkembangan era teknologi digital dan internet.

Novita, 35, guru Bahasa daerah SMP Negeri 23 Surabaya, bersiap memasuki di ruang studio rekaman. Bukan studio rekam yang besar dan lengkap. Studio itu hanya memanfaatkan sebagian ruang perpustakaan sekolah. Tidak kedap suara, tapi cukup representatif untuk rekaman.

“Hanya ada handphone, mikropon mini, dan cahaya yang cukup. Memang masih sederhana, tapi kami mencoba mengoptimalkan alat ada,” kata Topan, Ketua Musyawarah Guru Mata pelajaran (MGMP) Bahasa Daerah Kota Surabaya.

Belajar Pengajaran Digital di Internet dari Surabaya
Gita, guru SMPN 40 Surabaya membuat materi mata pelajaran Bahasa daerah yang nantinya diunggah ke Youtube/Ganug Nugroho Adi

Di studio sederhana, Novita duduk di belakang meja. Lalu, guru muda itu mulai membawakan materi soal tembang Macapat. Menguraikan beberapa hal mulai dari jenis, karakter, dan patokan-patokan yang dimiliki masing-masing tembang. Layaknya seorang Youtuber, Novita menyampaikan tutorialnya dengan gaya yang lincah. Kalimat-kalimatnya mengalir jernih dan mudah dimengerti. Di tangan Novita, materi tembang Macapat pun menjadi mudah dipahami.

Di ruang perpustakaan itu, beberapa teman seprofesi Novita yang lain menunggu giliran sambil menghapal materi. Buku-buku, beberapa naskah kuno, dan majalah berbahasa Jawa seperti Jayabaya dan Penjebar Semangat terlihat di sekitar mereka.

Materi Mata Pelajaran Digital

Tak hanya Novita, beberapa guru yang lain; Istirah, Gita, Rizky, dan Priyambodo  siang itu terlihat sibuk bersiap. Hari itu merupakan jadwal rekaman kedua mereka secara bersama-sama setelah sebelumnya melakukan rekaman sendiri. Mereka adalah sebagian dari 63 guru pelajaran muatan lokal (Mulok) Bahasa daerah.

“Kami membuat rekaman materi pengajaran, kemudian diunggah ke Youtube. Materi ini nantinya menjadi salah stau metode pengajaran untuk siswa,” jelas Topan yang juga guru Bahasa daerah di SMP N 48 Surabaya.

Menurut Topan, metode pengajaran melalui internet, dalam hal ini Youtube, menjadi program resmi Dinas Pendidikan (Diknas) Kota Surabaya mulai tahun ajaran 2019-2020. Bukan hanya untuk guru Bahasa Daerah, tapi juga semua guru mata pelajaran.

Menariknya, program tersebut merupakan ide dari para guru di Kota Surabaya yang sebelumya melakukan studi banding selama sebulan di Korea. Selama sebulan, mereka melihat guru-guru di Korea mempberlakukan metode pengajaran melalui internet lebih banyak dibandingkan metode konvensional di depan kelas.

“Kami kemudian sharing dengan Walikota, Kepala Diknas, sampai akhirnya Diknas me-launching program ini,” ujar Gita, guru muda di SMP N 40 Kota Surabaya.

Setidaknya, menurut Gita, dalam seminggu para guru wajib membuat dua materi rekaman yang nantinya di-upload ke Youtube. Dari channel Youtube itulah para siswa diajak menjalankan proses belajar mengajar.

Rizky yang guru SMP Negeri 17 Kota Surabaya menyampaikan dengan menyimpan materi pelajaran di channel Youtube, maka siswa diharapkan bisa lebih mempersiapkan diri sebelum mengikuti pelajaran.

“Siswa zaman sekarang sulit kalau harus membuka buku karena ponsel hampir tidak pernah lepas dari tangan mereka. Nah, sekarang mereka bisa belajar materi pelajaran yang diberikan oleh guru mereka sendiri di Youtube,” ujar dia.

Belajar Pengajaran Digital di Internet dari Surabaya
Gita, guru SMPN 40 Surabaya membuat materi mata pelajaran Bahasa daerah yang nantinya diunggah ke Youtube/Ganug Nugroho Adi

Dampak Negatif Ponsel

Menurut Rzsky, selama ini banyak pemangku kepentingan pendidikan, masyarakat, dan orang tua siswa yang mengkhawatirkan dampak negatif penggunaan handphone.  Atas kekhawatiran nitu, banyak sekolah yang melarang siswanya membawa ponsel saat di sekolah.

Namun, dengan memasukkan materi mata pelajaran di internet, dampak negatif tersebut diharapkan akan berkurang. Dengan kata lain, pemakaian gawai untuk tujuan positif harus diberi ruang seluas-luasnya.

Tidak hanya melalui Youtube, para guru juga mulai mendorong siswa untuk belajar dari website yang berhubungan dengan mata palajaran. Salah satunya adalah sastra.org yang merupakan website alih aksara dari huruf Jawa ke huruf latin.

“Di sastra.org banyak naskah kuna yang sudah dialihaksarakan. Kami kira itu sangat bagus sebagai tambahan pengetahuan bahasa daerah, terutama bahasa Jawa,” kata Topan.

Topan menyebut salah satu area teknologi digital dapat memberikan solusi terhadap permasalahan masyarakat adalah di sektor pendidikan. Selama ini, kata dia, masih banyak guru dan orang tua tidak mampu membantu anaknya belajar. Penyebabnya bisa karena pendidikan orang tua rendah atau jarang di rumah.

Pada sisi lain, kemampuan guru dalam mengajar tidak merata sehingga gagal menyampaikan materi ke para siswa. Internet, lanjut Topan, bisa menjadi solusi untuk mentransfer materi pendidikan kepada para siswa.

“Apa yang dirintis oleh Ruang Guru itu saya kira sangat bagus. Kita masih membutuhkan banyak website yang bisa digunakan sebagai materi pendidikan, salah satunya sastra. Bukan hanya siswa, guru pun bisa mengupdate wawasan melalui gawai,” jelas Topan.

Menurut Topan, guru Bahasa Daerah sampai saat ini masih kesulitan untuk mendapatkan beberapa referensi, seperti notasi kendang, gending Jawa, cerita rakyat, cerita anak, dan babad.   Beberapa materi tersebut ada dalam buku diktat, namun materinya sangat terbatas sehingga dari tahun ke tahun para siswa hanya tahu materi yang sama.

“Dari dulu, materi Dandanggula itu ya hanya Yogyanira kang para prajurit… Contoh lainnya tidak ada. Kalau ingin contoh lain ya harus googling,” ujar Priyombodo.

Kegelisahan itulah yang membuat para guru di Kota Surabaya membuat platform pengajaran di internet. Tujuannya, semata-mata mereka ingin memudahkan siswa untuk mengakses video materi, pembahasan dan latihan dari mata pelajaran, khususnya Bahasa daerah, pada tiap-tiap tingkatan kelas.

“Kami memproduksi sendiri video itu. Guru membebaskan penyampaian materi sesuai gaya anak muda. Milenial gitulah istilahnya,” ujar Priyombodo.

Belajar Pengajaran Digital di Internet dari Surabaya
Sejumlah guru Bahasa Daerah SMP di Surabaya berdiskusi soal materi mata pelajaran./Ganug Nugroho Adi

Belajar di Luar Kelas

Istirah, guru bahasa daerah SMP Negeri 36 Kota Surabaya, mengatakan dengan perkembangan teknologi internet, diharapkan siswa dapat belajar di mana saja dan guru juga bisa menjadi fasilitator dan moderator pembelajaran tanpa terikat ruang fisik.

Dengan internet, siswa akan lebih mudah belajar tidak hanya di ruang kelas karena penjelasan pengajar bisa memanfaatkan fasilitas video internet yang bisa dilakukan di mana saja selama tersedia sinyal internet. Siswa juga bisa lebih bebas karena tidak harus duduk di kelas sampai berjam-jam.

“Kami berusaha membuat siswa senyaman mungkin,” kata dia.

Topan menambahkan metode pembelajaran lain adalah kegiatan literasi dengan media digital sebagai alternatif. Dengan media digital, diharapkan bisa meningkatkan gairah untuk literasi.

Caranya, guru harus menyiapkan alamat website sesuai dengan materi mata pelajaran, dalam hal ini Bahasa daerah, yang akan diberikan.  Selanjutnya siswa membuka situs menggunakan laptop atau ponsel untuk membaca materi.

“Mereka diminta membaca, memahami, kemudian menuliskan tanggapan, komentar atau resensi. Biasanya ini merupakan tugas per triwulan semester siswa. Tapi proses literasinya bisa dilakukan kapan dan di mana pun. Tidak harus di dalam kelas,” kata Topan.

Untuk para guru sendiri, diharapkan mereka bisa menulis buku dan menerbitkannya dalam bentu e-book. Karya itu nantinya akan selalu di-update dan menjadi referensi untuk mata pelajaran Bahasa Daerah.  Para guru menyebutnya sebagai “Learn to know dan Learn to do”.

“Tapi ya itu mas, guru harus kerja kreatif. Karena selain fokus mengajar di depan kelas, mereka juga harus membuat konten-konten pengajaran di Youtube, termasuk mengenalkan website-website kepada siswa,” ujarnya. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


105 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.