Mobil Esemka, Antara Mau dan Malu-malu Kucing


Apa Kabar Mobil Esemka
Mobil Esemka/liputan6.com

Pada 2016, pabrik mobil Esemka, PT Solo Manufaktur Kreasi, mulai dibangun di Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Boyolali, Jawa Tengah. Belakangan ini, dikabarkan pabrik tersebut mulai memproduksi Esemka. Mobil Esemka pernah digadang-gadang menjadi mobil nasional.

Setidaknya, di halaman depan pabrik terlihat puluhan mobil pikap berjajar. Namun, pabrik itu menutup diri. Sampai saat ini tidak ada pernyataan resmi terkait mobil-mobil tersebut.  Sejumlah wartawan yang mencoba mendekati pabrik untuk konfirmasi keburu dihalau petugas keamanan. Mereka melarang wartawan melakukan peliputan termasuk mengambil gambar.

PT Solo Manufaktur Kreasi berdiri megah di atas tanah bengkok desa seluas 14 hektare. Lokasi pabrik cukup jauh dari pemukiman warga, berada di tepi jalan desa selebar 5 meter.  Tidak banyak warga sekitar yang mengetahui aktivitas pabrik.

“Saya pernah dua kali ke pabrik, tapi tidak ada aktivitas apapun. Sampai sekarang saya tidak tahu informasi apa-apa. Berapa orang yang ada di dalam, apa saja yang dikerjakan, “ kata Kepala Desa Demangan, Wijiyanto.

Menurut Wijayanto, sebelum pabrik dibangun dia sempat diminta mengurus perizinan dan mensosialisasikan ke warga. Namun saat pabrik mulai dibangun tidak ada lagi komunikasi dengan pihak pabrik.

Wijayanto mengungkapkan sejumlah warga pernah beberapa kali melihat kontainer keluar masuk pabrik. Namun, mereka tidak mengetahui apa isi kontainer. Keesokan harinya, warga melihat mobil-mobil pikap berderet di depan, dan bagian samping pabrik.

“Tapi jenisnya apa ya tidak tahu. Wong mobil Esemka itu seperti apa saya juga belum pernah melihat,” ujar Sarwono (43), warga Desa Demangan.

Apa Kabar Mobil Esemka
Sejumlah tipe mobil Esemka yang akan diproduksi/Istimewa

Aktivitas Pabrik

Warga menyebutkan aktivitas pabrik mobilEsemka terlihat ramai dalam beberapa bulan terakhir. Selain deretan mobil, lalu-lalang orang juga mulai sering terlihat di area pabrik. Sejumlah warga bahkan melihat adanya percobaan mobil di sisi timur pabrik.

Di halaman pabrik memang terlihat mobil-mobil pikap berderet di sisi timur. Mobil tersebut terdiri dua warna, putih dan abu-abu. Menurut warga, tidak setiap hari halaman pabrik dipenuhi deretan mobil.

Sejumlah orang juga terlihat lalu lalang melakukan aktivitas di area pabrik. Puluhan sepeda motor terparkir di sisi halaman yang lain. Beberapa bulan lalu, pemandangan seperti itu tidak terlihat karena pabrik terlihat sepi tanpa aktivitas.

Sekretaris Desa (Sekdes) Demangan, Suyamto, lahan pabrik mobil Esemka merupakan tanah kas desa yang disewa selama 30 tahun seharga Rp 1.000 per meter. Uang sewa sewa dibayarkan per tahun karena untuk gaji perangkat desa.

“Tahun pertama sampai ke tiga Rp 1.000 per meter, total nilainya sekitar 114 juta. Besaran uang sewa akan diperbarui setiap tiga tahun,” kata Suyamto.

Bupati Boyolali, Seno Samodro, mengungkapkan nilai investasi pabrik mobil Esemka nilainya mencapai Rp2,1 triliun. Namun, Seno tidak bersedia komentar tentang perkembangan pabrik yang mulai dibangun awal Januari 2016 itu.

“Yang jelas pabrik Esemka ada di Boyolali. Aktivitasnya seperti apa saya tidak mengikuti,” ujar Seno.

Momentum Mobil Esemka

Terkait kabar pabrik mobil Esemka yang sudah mulai produksi,  pencetus mobil Esemka Sukiyat tidak banyak berkomentar. Dia mengaku tidak terlibat dalam produksi massal Esemka di Boyolali.

“Saya membuat Esemka hanya untuk mentransfer ilmu kepada siswa SMK. Kalau soal produksi massal jangan tanya ke saya, tanyakan ke pabriknya,” ujar Sukiyat.

Komisaris Utama PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia (KMWI) itu mempersilakan dunia industri menangkap peluang untuk memproduksi mobil Esemka. Dia mengakui memproduksi 9 unit mobil Esemka untuk kepentingan pendidikan. Sedangkan untuk produksi massal, dia menyerahkan pada industri.

“Kalau industri mau memproduksi Esemka ya produksilah yang baik. Kenyamanan, keselamatan. Soalnya ini membawa nama Indonesia. Mobil itu hubungannya dengan nyawa. Jangan main-main,” kata dia.

Sukiyat meminta masyarakat tidak menyalahkan dirinya dan Presiden Jokowi jika mobil Esemka tidak bisa segera diproduksi massal. Sebab, produksi massal merupakan tugas industri . Tidak ada urusannya dengan Presiden.

“Bagi saya momentun Esemka sudah lewat. Sekarang saya fokus ke mobil pedesaan Mahesa. Saya ingin produktivitas masyarakat desa meningkat, sehingga ekonomi pedesaan juga tumbuh,” ujar Sukiyat. (*)


105 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.