Obituari NH Dini: Berpulangnya Sastrawan Besar


Obituari NH Dini: Berpulangnya Sastrawan Besar
NH Dini/foto: IG @indonesiaartdocumentary

NH Dini lahir di Semarang, 29 Februari 1936. Perempuan bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini sudah tertarik menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).  Buku-buku pelajaran sekolah sering menjadi korban coreat-coret tumpahan persaannya.

Ibunya, Kusaminah, adalah orang yang pertama kali mengenalkannya pada dunia di luar sekolah. Hampir setiap malam, sang ibu selalu menceritakan apa yang diketahui dan dibacanya dari majalah berbahasa Jawa, seperti  Panji Wulung, dan Penyebar Semangat. Tak hanya bercerita, sang ibu juga mengenalkan tembang-tembang, dan aksara Jawa.

“Ibu adalah orang yang berpengaruh besar terhadap karakter dan cara menyikapi lingkungan sekitar,” kata Dini, dalam sebuah wawancara pada 2017.

Ayahnya, Saljowidjojo, meninggal saat Dini masih SMP.  Kondisi itu membuat Dini kecil sering menyendiri dan melamun, sekaligus diam-diam menuangkan perasaannya dalam bentuk tulisan.

Pada 1953 saat masih duduk di SMP, cerpen-cerpennya mulai menghiasi majalah Mimbar Indonesia, Siasat, dan Kisah. Ia juga menulis  puisi, sandiwara radio, dan kemudian novel. Sejumlah novelnya; “Pada Sebuah Kapal”, “Labarka”, “Keberangkatan”, “Namaku Hiroko”, “Padang Ilalang di Belakang Rumah”, dan “Sebuah Lorong di Kotaku”, menjadi bacaan wajib para pecinta buku sastra.

Sebagai penulis, NH Dini dikenal sebagai novelis feminis Indonesia karena pembelaannya terhadap hak-hak perempuan dalam novel-novelnya.

Ibu dua anak itu menerima sejumlah penghargaan untuk karyanya.  Cerpennya, “Sarang Ikan di Teluk Jakarta” menjuarai lomba Penulisan Cerita Pendek dalam Bahasa Prancis se-Indonesia (1988). Setahun kemudian, Dini dianugerahi hadiah seni dari Kementrian P & K (Kendiknas) untuk bidang sastra. Pada 1991, Dini memperoleh Piagam Penghargaan Upapradana dari Provinsi Jawa Tengah.

NH i menikah dengan Yves Coffin, seorang konsulat Prancis di Kobe, Jepang, pada 1960.  Dari pernikahan itu lahir Marie-Claire Lintang (1961) dan Pierre Louis Padang (1967). Dini berpisah dengan suaminya pada 1984. Setahun kemudian dia mendapatkan kembali kewarganegaraan RI dan tinggal di Semarang.

Menjadi penulis selama lebih dari 60 tahun, namun NH Dini baru menerima royalti karyanya dalam tiga tahun terakhir. Kehidupannya banyak dibantu dibantu oleh teman-temannya, tertama saat dia mengalami sakit keras pada tahun 2000. Gubernur Jawa Tengah saat itu, Mardiyanto, bahkan ikut membantu biaya pengobatannya.

Di masa tuanya, NH Dini tinggal seorang diri di Kampung Sekayu, Semarang, dan mendirikan Pondok Baca NH Dini. Sementara anak sulungnya, Marie-Claire Lintang, menetap di Kanada, sedangkan Pierre Louis Padang  tinggal di Prancis. Dia kemudian memilih tinggal di Panti Wredha Langen Wedharsih, Ungaran, Kabupaten Semarang.

Dini sangat menikmati kehidupannya di panti. Dia dikenal sangat mandiri, dan melakukan sejumlah kegiatan akademis seperti  membimbing skripsi, mengisi acara seminar, dan kegiatan sastra. Dini juga masih aktif menulis. Pada 2003, lahir novelnya, “Dari Parangakik ke Kampuchea”.

Tak ada yang menyangka pada Selasa (4/12), sastrawan besar itu meninggal dunia di Rumah Sakit Elisabeth Semarang akibat kecelakaan. Menurut Kepala Humas RS Elisabeth, Probowati Condronegoro, NH Dini mengalami kecelakaan di jalan tol, dan meninggal dalam perawatan  di IGD pada pukul 16.30.


104 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.