Pangeran Diponegoro dan Perang yang Melelahkan


Diponegoro dan Perang yang Melelahkan
Lukisan S Sudjojono/Flickr

Ramalan tentang Pangeran Diponegoro itu datang dari Hamengku Buwono (HB) I, Raja Kasultanan Yogyakarta.  Pagi itu, tahun 785, Sang Sultan mengamati beberapa saat bayi merah yang disodorkan oleh permaisuri Raden Ayu Mangkorowati. Katanya, kepada sang permaisuri, pada masanya nanti bayi ini akan membuat Belanda kalang kabut. Anak ini akan membuat kerusakan hebat Belanda, lebih hebat dari aku. Rawatlah anak ini.

Bayi merah itu itu adalah Diponegoro alias Raden Mas Ontowiryo. Lebih dai 40 tahun kemudian, Diponegoro memimpin perang terbesar melawan Belanda di tanah Jawa. Berkobar hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Itulah perang hebat yang kedudian dikenal dengan sebagai Perang Jawa (1825-1830).

Sebuah perang yang, menurut Pemerintah Belanda, membuatnya bangkrut. Tercatat, di kedu apihak  kehilangan 200.000 orang  yang tewas selama perang. Belanda kehilangan 8000 prajurit yang dibawanya dari Eropa, dan 7000 prajurit yang direkrut dari wilayah Nusantara. Dari sisi materi, Belanda mengalami kerugian sebesar 20 juta gulden.

Belanda buannya tidak mengantisipasi terjadinya perang besar itu.  Jauh sebelum 1825, Gubernur Jenderal Belanda di Batavia saat itu,Van der Capellen, mengirimmkan seluruh pasukan Belanda di Jawa di Yogyakarta, dan Surakarta.

Dukungan Ulama

Pangeran Diponegoro mendapat dukungan dari banyak kalangan, mulai kerabat, bangsawan, tokoh masyarakat, ulama, santri, petani, pedagang, dan rakyat jelata. Beberapa tokoh muncul bahu-membahu mengobarkan perang, seperti Pangeran Mangkubumi yang merupakan pamannya, dan Ali Basyah Abdul Mustofa Prawirodirjo alias Sentot Prawirodirjo.

Pemuda belasan tahun itu bahkan dipercaya memimpin pasukan berkuda berjumlah 400 orang. Sentot juga menjadi pemimpin bagi semua pemimpin kesatuan-kesatuan perang. Beberapa tokoh lainnya adalah Tumenggung Danukusumo, serta dua putera Diponegoro, Pangeran Diponegoro Anom dan Ki Sodewo yang memimpin 1.000 prajurit berkuda, Satuan Pinilih. Berikutnya dukungan juga datang dari Kiai Mojo dan Kiai Kuarun.

Ketika Belanda menguasai Selarong, atas usulan Kiai Mojo, Pangeran Diponegoro memindahkan markas perlawanannya ke Dusun Sambiroto, Pengasih, Utara Kota Wates, Ibukota Kab Kulonprogo sekarang. Di markasnya yang baru itulah Diponegoro dilantik oleh Kiai Mojo menjadi sultan bergelar Sultan Abdulhamid Herucokro Amirulmukminin Sayidin Panotogomo Kalifah Rasulallah Ing Tanah Jawi pada 1826.

Alasannya, empat raja Jawa, Raja Surakarta Pakubuwono VI, Saja Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono V,  Mangkunegoro III, dan Paku Alam I dianggap tidak bisa berbuat banyak terhadap tekanan Belanda.

Sejak itu, markas komando perang  terus berpindah. Tercatat seteah Dekso, markas dipindah ke Plered –bekas ibu kota Kerajaan Mataram, kemudian Gawok di wilayah Surakarta. Dalam serbuan Belanda ke Gawok, Pangeran Diponegoro sempat terluka parah sehingga harus bersembunyi di lereng Merapi.

Diponegoro dan Perang yang Melelahkan
Penyerbuan Pleret oleh Belanda di masa Perang Diponegoro. Lukisan G Kepper tahun 1900/Istimewa

Tragedi Tegalrejo

Perang Diponegoro atau Perang Jawa terjadi karena campur tangan Belanda dalam urusan pemerintahan kasultanan, termasuk pengangkatan raja dan patih. Puncaknya adalah pemasangan patok di tanah-tanah miliknya untuk pembangunan jalan raya pada Juli 1825.

Pangeran Diponegoro murka. Bukan hanya karena tanah-tanah itu sebagai lahan pertanian, sumber pangan dan penghasilan, tapi juga karena para leluhurnya dimakamkan di sana. Terlebih lagi, pemasangan patok itu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Patok-patok yang dipasang Residen Yogyakarta Anthonie Henrik Smissaert –tentu saja atas perintah Gubernur Jenderal Van der Capellen, itulah yang membuat hubungan antara Pangeran Diponegoro, Kasultanan Yogyakarta, dan Belanda semakin panas.

Sejarawan Inggris Peter Carey dalam buku Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (hlm. 704) menulis, bahwa pembangunan jalan raya yang tanpa pemberitahuan itu sebagai penyebab perang.

Sebelumnya, berbagai konflik internal memang sudah mewarnai intern keraton, terutama sejak Danureja IV menjadi Patih. Sang Patih sengaja tidak memberitahu soal rencana pembuatan jalan karena
Pangeran Diponegoro selalu menghalangi sepak terjangnya.

Kerusuhan-kerusuhan kecil antara petani penggarap sawah yang merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro, dengan para pemasang patok punkerap terjadi. Tidak hanya peani, penduduk setempat pun berduyun-duyun ikut membantu. Lama kelamaan, pendukung Diponegoro semakin banyak.

“Mereka datang untuk membela Diponegoro atas tindakan sewenang-wenang Belanda dan Danureja. Mereka kemudian mulai membentuk pertahanan diri, mendirikan posko di Tegalrejo. Itulah bibit Perang Jawa,” kata Carey.

Pangeran Diponegoro Menuju Perang Jawa

Pengikut Pangeran Diponegoro pun mulai menumpuk, dan berkonsentrasi di Tegalrejo. Kondisi ini mengakibatkan kolonial mulai mengkhawatirkan bakal terjadinya kerusuhan yang lebih hebat.

Masih pada 1825, Smissaert kemudian memerintahkan Diponegoro untuk menghadap ke kantor residen. Namun, Sang Panegran sudah memutuskan untuk tidak berunding dengan Belanda. Pada 20 Juli 1825 terjadilah kontak senjata yang pertama antara pasukan Pangeran Diponegoro dengan tentara kolonial di Tegalrejo.

Pasukan Diponegoro kalah jumlah. Belanda mengepung dan kemudian membakar rumah Sang Pangeran.  Namun, Diponegoro dan sebagian besar pengikutnya berhasil lolos. Selarong akhirnya menjadi markas komando Pangeran Diponegoro.

“Di tempat itulah Diponegoro mengucapkan ikrar pemberontakan terhadap Belanda,” tulis Carey yang menghabiskan empat puluh tahun untuk meneliti Diponegoro.

Kabar perang yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro merembet ke keraton. Mereka yang kesal dengan campur tangan kolonial ke urusan intern istana segera menyusul ke Selarong, bergabung dengan Sang Pangeran.

Diponegoro dan Perang yang Melelahkan
Sketsa Pertempuran pengikut Diponegoro dengan pasukan Belanda di Selarong/Istimewa

Serangan Besar-besaran

Insiden Tegalreja membuat Gubernur Van der Cepellen marah. Dia memerintahkan Jenderal De Kock untuk menumpas pemberontakan
Pangeran Diponegoro. Pada 30 Juli 1825, De Kock meminta bantuan Pakubuwana VI untuk menghentikan pemberontakan.

Belanda mengirimkan pasukan bantuan dari Semarang. Namun, pasukan yang dipimpin kapten Keemsius itu disergap oleh pasukan Diponegoro. Sebanyak 200 prajurit Belanda tterbunuh, dan uang 50.000 gulden yang sedianya akan diberikan kepada residen Yogyakarta dirampas.

Belanda semaki sering mengirim pasukan, tapi selalu dipathkan oleh Pangeran Diponegoro dan pendukungnya. Kemenangan demi kemenangan Diponegoro menyulut perlawanan terhadap pemerintah kolonial di Jawa.

Di Kedu, pasukan Bulkiya yang dipimpin oleh Sentot dan Haji Abdulkabir memukul mundur pasukan Belanda yang dibantu Bupati Magelang Tumenggung Hadiningrat.  Sang Bupati bahkan terbunuh dalam pertempuran itu. Peristiwa yang sama juga terjadi di Menoreh. Bupati Menoreh, Ario Sumodilogo, yang membantu perlawanan Belanda ikut terbunuh.

Pasukan Belanda kemudian mengadakan serangan besar-besaran ke Selarong pada 2 Oktober 1825. Namun, Selarong sudah kosong.  Pangeran Diponegoro memindahkan markasnya ke Dekso. Sementara wanita,anak anak, dan orang tua diungsikan ke Suwela.

Benteng Stelsel

Selama tahun 1825 dan 1826 pasukan Diponegoro selalu memenangkan pertempuran melawan Belanda dan raja-raja yang bersekutu dengannya.  Dalam sebuah serbuan di Delanggu, Pangeran Diponegoro berhasil membuat pasukan Beanda kocar-kacir. Mereka pun merampas berpuluh senapan dan dua belas meriam.

Pada tahun 1827 Jenderal de Kock menerapkan siasat Benteng Stelsel untuk mengimbangi siasat perang gerilya Pangeran Diponegoro. Sebanyak 200 benteng dibangun Belanda untuk untuk menghadapi pasukan Diponegoro.

Sang Jenderal bahkan sampai mengeluarkan sayembara dengan menjanjikan hadia 500 ringgit bagi pengikut Pangeran Diponegoro yang bersedia menyerah. Hadiah 20.000 ringgit, gelar pangeran, sebidang tanah, dan gaji 10 ringgit per bulan juga diberikan bagia yang berhasil menangkap Diponegoro, hidup atau mati.

Namun pendukung Pangeran Diponegoro tak bergeming. Perang terus-menerus dikobarkan.  Perlawanan Diponegoro terhadap Belanda terus berkecamuk setidaknya hingga tahun 1829 akhir. (*)


105 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

2 Comments on Pangeran Diponegoro dan Perang yang Melelahkan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.