Polemik Mozaik Jalan Mirip Salib di Solo


Polemik Mozaik Jalan Mirip Salib di Solo
Mozaik di Jalan Jenderal Sudirman, Solo/dokumentasi Sinas PUPR Surakarta

Pelaksana proyek pavingisasi koridor Jalan Jenderal Sudirman depan Balai Kota Surakarta mengecat mozaik batu andesit yang sudah tertata rapi. Gara-garanya, mozaik pada batu-batu andesit di kawasan itu dianggap menyerupai salib, Jumat (18/1).

Sehari sebelumnya, beredar foto mosaik mirip salib di media sosial. Para warganet menanggapi unggahan gambar yang pada awalnya diunggah akun Instagram @pariwisatasolo, akun resmi Dinas Pariwisata Kota Solo.

Foto yang diambil menggunakan drone itu langsung menjadi viral. Pengambilan gambar dilakukan di ujung utara jalan, tepat di depan Balai Kota Surakarta. Tugu Pemandengan menjadi titik sentral dari mosaik itu. Di sekitarnya terlihat bentuk mata angin dengan warna merah dan kuning. Bagian selatan memanjang  dengan water barrier pembatas jalur. Maka, muncullah tafsir sekaligus polemik itu.

Sang Walikota, FX Hadi Rudyatmo, menegaskan tidak mungkin dia menempatkan salib sebagai motif untuk jalan. Jika itu dilakukan, maka sama artinya dia melecehkan agamnya sendiri. Rudy adalah seorang penganut Katolik.

“Salib itu tempatnya di atas, bukan di bawah. Apalagi di jalan yang setiap hari diindas kendaraan,” kata Rudy.

Polemik Mozaik Jalan Mirip Salib di Solo
Mozaik di Jalan Jenderal Sudirman, Solo/dokumentasi Sinas PUPR Surakarta

Selaku perencana, Sekretaris Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Surakarta, Taufan Basuki, menjelaskan desain itu merupakan sebuah kesatuan dengan bundaran Gladag dan Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta.

“Masyarakat harus melihat secara utuh, bukan parsial. Apalagi penataan belum selesai,” ujar dia.

Dia menyampaikan desain mozaik itu sebenarnya bercerita tentang delapan arah mata angin dengan Tugu Pemandengan sebagai pusat. Pernyataan itu diamini oleh Putra Paku Buwono XII Kasunanan Surakarta, KGPH Puger.

“Arah mata angin itu ada dalam konsep filosofi Jawa. Selain ke samping, ada arah vertikal. Itu konsep ketuhanan,” ujar Puger.

Puger mengungkapkan bahwa dengan konsep itu, seorang raja harus mengurusi rakyat, tapi sekaligus harus memiliki pandangan lurus ke atas (Tuhan).

Sekadar catatan, Tugu Pamandengan adalah kawasan bersejarah di Kota Surakarta. Tugu ini dikenal sebagai tugu nol kilometer, peninggalan Pemerintahan Raja Surakarta mulai Paku Buwono (PB) VI hingga Pakubuwono X. Tugu Pemandengan menjadi titik fokus pandangan Raja Keraton Kasunanan Surakarta saat itu untuk memusatkan pikiran dalam menemukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapi rakyat pada zamannya.

Ketua MUI Kota Surakarta, Subari, pun membeberkan tidak ada niatan dari pendesain untuk menggambar salib. Kesimpulan itu diperoleh setelah sebelumnya dilakukan pertemuan beberapa tokoh agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

“Bagaimana ada niatan menggambar salib kalau dua desainernya ternyata juga muslim,” ujar dia.

Namun, pandangan itu berbeda dengan ormas Islam, Laskar Umat Isalam Suraakarta (LUIS). Ketua laskar, Edi Lukito, bersikeras bahwa Pemkot Surakarta sudah mempunyai niat memasang simbo salib pada ornament di titik nol kota itu.

Untuk mengatasi polemik, Pemkot Surakarta. LUIS, dan Dewan Syariah Kota Solo (DSKS) melakukan mediasi yang difasilitasi oleh FKUB. Pertemuan menghasilkan kesepakatan bahwa desain mozaik yang menyerupai salib diubah.

Pemerintah Kota Surakarta akhirnya memilih menutup mozaik mirip salib. Batu-batu andesit yang sudah tertata rapi itu dicat agar ornamen yang menghias di sekitar Tugu Pamandengan tidak terlihat. Untuk sementara, p[olemik pun selesai.(*)


104 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.