Rekam Jejak Ira Koesno, Sang Moderator


Rekam Jejak Ira Koesno, Sang Moderator
Ira Koesno moderator debat cagub DKI/Aditia Noviansyah/kumparan

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan Ira Koesna sebagai salah satu moderator dalam Debat Perdana Capres-Cawapres di Pilpres 2019 di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (17/1). Bagi Ira Koesno, tugas ini bukan kali pertama. Wanita single itu pernah tampil memukau sebagai moderator dalam debat Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Sebelumnya, Ira Koesno juga tampil elegan saat menjadi moderator dalam Debat Perdana Capres-Cawapres di Pilpres 2004.

Nama Ira Koesno dikenal saat menjadi presenter berita di Liputan 6 SCTV. Ia banyak meliput peristiwa besar. Ira sempat memicu kontroversi saat menjadi penyiar di stasiun televisi itu.

Pada 17 Mei 1998, beberapa hari sebelum Presiden Soeharto lengser, Ira Koeno membuat geger saat mewawancarai Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja. Dalam wawancara itu, muncul istilah “cabut gigi” yang merujuk pada permintaan terhadap turunnya Soeharto, penguasa Orde Baru.

Menurut Sarwono, untuk mengobati pemerintahan yang “sakit gigi”, maka gigi yang sakit perlu dicabut. Tentu saja, persoalan gigi itu merujuk pada Presiden Soeharto. Akibat tayangan itu, Ira Koesno di-skors oleh SCTV. Namun, karier jurnalistiknya terus berlanjut.

Setelah menjadi moderator dalam Debat Perdana Pilpres 2004, Ira Koesno mengakhiri karir jurnalistiknya, dan mendirikan jasa konsultan media. Namanya menghilang.

Nama Ira Koesno kembali muncul saat menjadi moderator debat Pilkada DKI Jakarta. Tapi setelah itu namanya seolah kembali dilupakan. Ira kembai sibuk dengan bisnis broadscastingnya. Saat memasuki kontestasi Pilpres 2019, lagi-lagi Ira Koesno mendapat tugas sebagai moderator debat perdana.

Lahir di Jakarta 30 November 1969, nama lengkapnya Dwi Noviratri Martoatmodjo dari pasangan Koesno Martoatmodjo dan Sri Utami. Selanjutnya, ia lebih dikenal dengan nama Ira Koesno.

Sebelum masuk dunia jurnalistik, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu sempat bekerja di sebuah perusahaan akuntan publik, Auditor KPMG Hanadi Sujandro. Ira masuk SCTV pada 1996 sebagai wartawan lapangan di SCTV. Ira banyak melakukan liputan di daerah-daerah konflik, termasuk liputan ke DOM Aceh.

Tahun 1998, uncullah istilah “cabut gigi” ynag fenomenal itu saat Ira mewancarai Menteri Negara Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja, dalam program Liputan6. Akibat tayangan wawancara iotu, Redaksi Liputan6 terancam akan ditutup oleh pemerintah. Ira Koesno kena skorsing.

Kabar baiknya, pada tahun yang sama Ira Koesno justru meraih penghargaan Panasonic Gobel Awards sebagai Pembawa Berita Wanita Terfavorit, dan penghargaan Presenter Informasi dan Berita (2003).

Pada 2003, Ira Koesno mundur dari SCTV. Dia mendirikan Ira Koesno Production (IKPro) – sekarang Ira Koesno Communications (IKComm) yang bergerak dalam bidang jasa strategi komunikasi terpadu.  Ira Koesno meraih gelar Master of Arts dalam bidang Film dan Produksi Televisi dari Universitas Bristol, Inggris, disusul gelar Master of Arts Jurnalistik Internasional dari Universitas Westminster, Inggris.

Namanya tidak lagi terdengar. Sampai pada 2004, Ira Koesno terpilih menjadi moderator Debat Capres 2004 yang diikuti oleh empat pasangan capres-cawapres, yaitu Wiranto-Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, Amien Rais- Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Pada 2010, Ira Koesno kembali muncul di layar televisi sebagai presenter program “Satu Jam Lebih Dekat” di tvOne. Pada 2016, ia memandu program Kompas TV bertajuk “Satu Meja”.

Saat konstilasi Pilda DKI Jakarta 2017 memanas, Ira Koesno kembali terpilih sebagai moderator Debat Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta. Ia memandu tiga kandidat, yaitu pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Pada 2019, Ira Koesno, bersama jurnalis TVRI Imam Priyono,  kembali dipercaya memandu debat Capres. Koisi Pemilihan Umum (KPI) memiliki ada alasan khusus. Komisioner KPU Wahyu Setiawan menyebut “orang media” bisa independen.

“Lagipula, moderator hanya menyampaikan pertanyaan dari KPU dan tim panelis, bukan menyampaikan pertanyaannya sendri,” ujar Wahyu.

Bukannya tak ada pihak yang meragukan Ira Koesno. Namun, wanita 49 tahun itu menepis keraguan itu. Katanya, “Setiap orang pasti punya preferensi, termasuk saya. Tapi ke arah mana preferensi itu, hanya saya dan Tuhan yang tahu,” ujarnya.(*)


104 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.