Tembang Macapat, Syair Kehidupan Manusia


Tembang Macapat, Syair Kehidupan Manusia
Istimewa

Tembang Macapat. Secara etimologi Macapat bisa diartikan Maca Papat-papat atau membaca empat-empat dalam bahasa Indonesia. Pengertian ini merujuk pada cara membacanya yang serangkai pada tiap empat guru wilangan –jumlah suku kata dalam setiap baris kalimat ( gatra).

Versi lain, kata pat mengarah pada jumlah sandhangan (diakritis) dalam aksara Jawa yang relevan dalam penembangan macapat. Ronggowarsito dalam Serat Mardawalangu mengartikan Macapat sebagai singkatan dari frasa Maca-Pat-Lagu, yaitu melagukan nada (tembang) keempat. Disebut juga sebagai frasa maca-sa-lagu, maca-ro-lagu dan maca-tri-lagu.

“Maca-sa-lagu adalah yang tertua, konon diciptakan oleh para dewa, kemudian diturunkan kepada Walmiki, dan dikembangkan oleh pujangga istana Yogiswara dari Kediri,” tulis Ronggowarsito.

Kategori Maca-sa-lagu inilah yang menjadi Tembang Gedhe, termasuk Maca-ro yang disebut karena terikat aturan guru wilangan, guru lagu, dan guru gatra. Sementara Maca-tri termasuk Tembang Tengahan, dan Macapat merupakan Tembang Cilik yang diciptakan oleh Sunan Bonang, dan diturunkan kepada para wali.

Tembang Macapat, Syair Kehidupan Manusia
Seorang abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta membaca syair-syair Macapat/Antara

Makna Tembang Macapat

Sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa syair-syair dalam 11 tembang Macapat adalah cerminan  proses hidup manusia, mulai ketika Tuhan meniupkan ruh sampai memanggil kembali ruh pulang. Sebelas tembang Macapat menggambarkan sifat manusia dari lahir sampai mati.

Pengertian tembang Macapat sendiri adalah sebagai puisi tradisional Jawa di mana pada setiap baitnya memiliki gatra. Baris kalimat ini terdiri dari jumlah suku kata tertentu (guru wilangan), dan diakhiri dengan bunyi tertentu (guru lagu).

Tidak hanya di Jawa, tembang Macapat juga muncul sebagai kebudyaan di beberapa daerah, seperti Sunda, Bali, Madura, Sasak, Banjarmasin, dan Palembang  dengan nama yang berbeda.

Pakar Jawa Kuno, Poerbatjaraka, menyebut tembang macapat lahir bersamaan syair Jawa Tengahan. Dia memperkirakan jika tembang macapat tumbuh seiring dengan tembang tengahan, maka Macapat sebenarnya sudah muncul setidak-tidaknya pada 1541 Masehi.

Perkiraan itu berdasar pada angka tahun yang terdapat pada kidung Subrata, Juga Rasa Dadi Jalma = 1643 J atau 1541 Masehi. (Saputra, 1992:14). Pada era tahun itu telah berkembang puisi berbahasa Jawa kuno, jawa tengahan, dan jawa baru yaitu kekawin, kidung, dan macapat.

Tahun perkiraan Poerbatjaraka itu senada dengan Zoetmulder yang menyebut bahwa pada abad 16, di Jawa hidup berdampingan tiga bahasa, yaitu Jawa Kuno, Jawa Tengahan, dan Jawa Baru.

Struktur Tembang Macapat

Tembang Macapat, Syair Kehidupan Manusia
Struktur Tembang Macapat/Istimewa

Macapat adalah sebuah filosofi ajaran keluhuran budi, sekaigus gambaran fase perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga mati. Masing-masing memiliki jumah bait yang berbeda, termasuk aturan guru lagu dan guru wilangan. Itulah mengapa disebut sebagai tembang macapat.

Dosen Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Karsono H Saputra menyebut macapat memiliki beragam pola baku atau pakem. Secara tradisional, kata dia, terdapat 15 pakem dalam macapat.

“Pembacaan macapat itu dengan cara dilagukan (tembang). Macapat itu puisi liris tradisional Jawa,” tulis Karsono dalam buku, “Puisi Jawa Struktur dan Estetika” (Jakarta, 2001).

Dia menyebutkan bahwa secara umum macapat hanya memiliki 11 pola baku. Kesebelas tembang macapat itu secara berurutan  adalah; maskumambang, mijil, sinom, kinanthi, asmaradana, gambuh, dhandanggula, durma, pangkur, megatruh, dan pucung.

Sebelas Tembang 

Maskumambang

Tembang pertama ini menggambarkan ketika manusia masih berada di alam ruh, sebelum ditanamkan di rahim. Mas adalah sesuatu yang berharga, sedangkan mambang (kemambang-Jawa) artinya mengambang. Maskumambang menggambarkan janin yang masih mengambang dalam rahim sebelum akhirnya ditiupkan tuh.

Contoh Tembang Maskumambang (12i-6a-8i-8o )

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi

Ha nemu duraka

Ing donya tumekeng akhir

Tan wurung kasurang-surang

Guru gatra= 4

Tembang Maskumambang terdiri dari 4 baris 

Guru Wilangan= 12, 6, 8, 8

Baris pertama terdiri dari 12 suku kata, baris kedua 6 suku kata, baris ketiga 8 suku kata, dan baris keempat 8 suku kata.

Guru Lagu= i, a, i, o

Akhir kalimat sesuai baris mempunyai vokal i, a, i, o.

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi = i

Ha nemu duraka = a

Ing donya tumekeng akhir =i

Tan wurung kasurang-surang =o

Mijil

Mijil artinya lahir. Tembang Mijil adalah gambaran ketika bayi lahir setelah 9 bulan dalam kandungan.

Contoh Tembang Mijil (10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o)

Dedalanne guna lawan sekti

Kudu andhap asor

Wani ngalah dhuwur wekasane

Tumungkula yen dipundukanni

Ruruh sarwa wasis

Samubarangipun

Guru Gatra= 6

Tembang Mijil terdiri dari 6 baris 

Guru Wilangan= 10, 6, 10, 10, 6, 6

Baris pertama terdiri dari 10 suku kata, baris kedua 6 suku kata, baris ketiga 10 suku kata. baris keempat 10 suku kata, baris kelima 6 suku kata, dan baris keenam berjumlah 6 suku kata.

Guru Lagu= i, o, e, i, i, o

Akhir kalimat sesuai dengan baris bervokal i, o, e, i, i, o.

Dedalanne guna lawan sekti = i

Kudu andhap asor = o

Wani ngalah dhuwur wekasane = e

Tumungkula yen dipundukanni = i

Ruruh sarwa wasis = i

Samubarangipun = o

Kinanthi

Kinanthi berasal dari kata kanthi (Jawa) yang artinya dituntun dalam proses belajar berjalan. Tembang ini melambangkan kehidupan anak kecil yang masih butuh tuntunan agar kelak bisa kuat menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.

John Locke melalui teori teori Tabula Rasa (kertas kosong) mengatakan bahwa bayi lahir seperti kertas putih, kosong tanpa isi. Kehidupan dan lingkungan sekitarnyalah yang kelak akan membentuknya menjadi sebuah pribadi.

Tembang Kinanthi menggambarkan pentingnya tuntunan yang baik agar anak-anak tumbuh menjadi pribdadi yang baik pula.

Contoh Tembang Kinanthi (8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i)

Kukusing dupa kumelun

Ngeningken tyas kang apekik

Kawengku sagung jajahan

Nanging saget angikipi

Sang resi kaneka putra

Kang anjog saking wiyati

Guru Gatra= 6

Tembang Kinanthi terdiri dari 6 baris

Guru Wilangan= 8, 8, 8, 8, 8, 8,

Baris pertama 8 suku kata., baris kedua 8 suku kata, baris ketiga 8 suku kata, baris keempat 8 suku kata, baris kelima 8 suku kata, dan baris keenam jumlahnya 8 suku kata.

Guru Lagu= u, i, a, i, a, i

Akhir kalimat sesuai dengan baris mempunyai vokal u, i, a, i, a, i

Kukusing dupa kumelun = u

Ngeningken tyas kang apekik = i

Kawengku sagung jajahan = a

Nanging saget angikipi = i

Sang resi kaneka putra = a

Kang anjog saking wiyati = i

Sinom

Sinom atau sinoman dimaknai sebagai  pemuda. Inilah babak penting kehidupan manusia. Masa yang indah, penuh semangat dan harapan. Di sisi lain, mereka harus memiliki pesiapan sebaik-baiknya untuk menghadapi hidup yang tidak selalu mudah.

Contoh Tembang Sinom (8a-8i-8a-8i-7i-8u-7a-8i-12a)

Punika serat kawula

Katura sira wong kuning

Sapisan salam pandonga

Kapindo takon pawarti

Jare sirarsa laki

Ingsun mung sewu jumurung

Amung ta wekasi wang

Gelang alit mungging driji

Lamun sida aja lali kalih kula

Guru Gatra= 9

Tembang Sinom terdiri dari 9 baris 

Guru Wilangan= 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12

Baris pertama 8 suku kata, baris kedua 8 suku kata, baris ketiga 8 suku kata, baris keempat 8 suku kata, baris kelima 7 suku kata., baris keenam 8 suku kata, baris ketujuh 7 suku kata, baris kedelapan 8 suku kata, dan baris kesembilan 12 suku kata.

Guru Lagu= a, i, a, i, i, u, a, i, a

Akhir kalimat sesuai dengan baris harus berbunti a, i, a, i, i, u, a, i, a.

Punika serat kawula = a

Katura sira wong kuning = i

Sapisan salam pandonga = a

Kapindo takon pawarti = i

Jare sirarsa laki = i

Ingsun mung sewu jumurung = u

Amung ta wekasi wang = a

Gelang alit mungging driji = i

Lamun sida aja lali kalih kula = a

Asmaradana

Pada bagian ini, macapat penuh syair cinta. Asmaradana menjadi fase di mana anak-anak muda mulai memiliki ketertarian, dan jatuh cinta kepada lawan jenis. Tidak heran jika Tembang Asmaradana penuh dengan sayair-syair cinta yang memabukkan.

Contoh Tembang Asmarandana (8i-8a-8e-7a-8a-8u-8a)

Lumrah tumrap wong ngaurip

Dumunung sadhengah papan

Tan ngrasa cukup butuhe

Ngenteni rejeki tiba

Lamun tanpa makarya

Sengara bisa kepthuk

Kang mangkono bundhelana

Guru Gatra= 7

Tembang Asmarandana terdiri dari 7 baris 

Guru Wilangan= 8, 8, 8, 7, 8, 8, 8

Baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua 8 suku kata, baris ketiga 8 suku kata, baris keempat 7 suku kata, baris kelima 8 suku kata, baris keenam 8 suku kata, dan baris ketujuh terdiri dari 8 suku kata.

Guru Lagu = i, a, e, a, a, u, a

Akhir kalimat sesuai dengan baris memiliki vokal i, a, e, a, a, u, a

Lumrah tumrap wong ngaurip = i

Dumunung sadhengah papan = a

Tan ngrasa cukup butuhe = e

Ngenteni rejeki tiba = a

Lamun tanpa makarya = 

Sengara bisa kepthuk = u

Kang mangkono bundhelana = a

Gambuh

Asal kata Gambuh adalah Jumbuh, yaitu proses lahir batin antara pria dan wanita yang sepakat membentuk keluarga atas dasar cinta. Tembang gambung banyak berisi nasehat untuk mewujudkan rumah tangga yang harmoni.

Contoh Tembang Gambuh (7u – 10u – 12i – 8u – 8o)

Lan sembah sungkem ipun

Mring Hyang Sukma elinga sireku

Apan titah sadaya amung sadermi

Tan welangsira andhaku

Kabeh kagungan Hyang Manon

Guru Gatra= 5

Tembang Gambuh memiliki 5 baris kalimat

Guru Wilangan= 7, 10, 12, 8, 8

Baris kalimat pertama terdiri dari 7 suku kata, baris kedua 10 suku kata, baris ketiga 12 suku kata., baris keempat 8 suku kata., dan baris kelima 8 suku kata.

Guru Lagu= u, u, i, u, o

Akhir kalimat sesuai dengan baris memiliki vokal u, u, i, u, o.

Lan sembah sungkem ipun = u

Mring Hyang Sukma elinga sireku = u

Apan titah sadaya amung sadermi = i

Tan welangsira andhaku = u

Kabeh kagungan Hyang Manon = o

Dhandanggula

Tembang Dandhanggula adalah gambaran kebahagiaan sebuah keluarga.  Syair-syairnya berisi tuntunan agama dan kehidupan sosial.

Contoh tembang dhandanggula (10i -10a-8e-7u-9i-7a-6u-8a-12i-7a)

Sinengkuyung sagunging prawali

Janma tuhu sekti mandra guna

Wali sanga nggih arane

Dhihin Syeh Magrib tuhu

Sunan ngampel kang kaping kalih

Tri sunan bonang ika

Sunan giri catur

Syarifudin sunan drajat

Anglenggahi urutan gangsal sayekti

Iku ta warnanira

Guru Gatra= 10

Tembang Dhandhanggula terdiri dari 10 baris 

Guru Wilangan= 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7

Baris pertama 10 suku kata, baris kedua 10 suku kata, baris ketiga 8 suku kata, baris keempat 7 suku kata, baris kelima 9 suku kata, baris keenam 7 suku kata, baris ketujuh 6 suku kata, baris kedelapan 8 suku kata, baris kesembilan 12 suku kata, baris kesepuluh 7 suku kata.

Guru Lagu= i, a, e, u, i, a, u, a, i, a

Akhir kalimat sesuai dengan baris harus bebunti vokal i, a, e, u, i, a, u, a, i, a.

Sinengkuyung sagunging prawali = i

Janma tuhu sekti mandra guna = a

Wali sanga nggih arane = e

Dhihin Syeh Magrib tuhu = u

Sunan ngampel kang kaping kalih = i

Tri sunan bonang ika = a

Sunan giri catur = u

Syarifudin sunan drajat = a

Anglenggahi urutan gangsal sayekti = i

Iku ta warnanira = a

Durma

Asal kata Durma adalah darma. Tembang Durma berisi petuah tentang bagaimana manusia hiodup harus berdarma, bersedekah, dan bersyukur atas limpahan berkah.  Tembang ini mengajarkan bagaimana manusia sebagai makhluk sosial harus saling membantu sesama.

Contoh Tembang Durma (12a-7i-6a-7a-8i-5a-7i)

Ayo kanca gugur gunung bebarengan

Aja ana kang mangkir

Amrih kasembadan

Tujuan pembangunan

Pager apik dalan resik

Latar gumelar

Wisma asri kaeksi

Guru Gatra= 7

Tembang Durma terdiri dari 7 baris 

Guru Wilangan= 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7

Baris pertama 12 suku kata, baris kedua 7 suku kata, baris ketiga 6 suku kata, baris keempat 7 suku kata, baris kelima 8 suku kata, baris keenam 5 suku kata, dan baris ketujuh 7 suku kata.

Guru Lagu= a, i, a, a, i, a, i

Akhir kalimat sesuai dengan baris mempunyai vokal a, i, a, a, i, a, i.

Ayo kanca gugur gunung bebarengan = a

Aja ana kang mangkir = i

Amrih kasembadan = a

Tujuan pembangunan = a

Pager apik dalan resik = i

Latar gumelar = a

Wisma asri kaeksi = i

Pangkur

Pangkur memiliki makna bahwa manusia harus menghindari sifat-sifat angkara. Kehidupan harus memberi manfaat kepada makluk lain.

Contoh Tembang Pangkur (8a – 11i – 8u – 7a – 8i – 5a – 7i)

Muwah ing sabarang karya

Ingprakara gedhe kalawan cilik

Papat iku datan kantun

Kanggo sadina-dina

Lan ing wengi nagara miwah ing dhusun

Kabeh kang padha ambegan

Papat iku nora lali

Guru Gatra= 7

Tembang Pangkur terdiri dari 7 baris 

Guru Wilangan= 8, 11, 8, 7, 8, 5, 7

Baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua 11 suku kata, baris ketiga 8 suku kata, baris keempat 7 suku kata, baris kelima 8 suku kata, baris keenam 5 suku kata, dan baris ketujuh 7 suku kata.

Guru Lagu= a, i, u, a, i, a, i

Akhir kalimat sesuai dengan baris harus berbunyi  a, i, u, a, i, a, i.

Muwah ing sabarang karya = a

Ingprakara gedhe kalawan cilik = i

Papat iku datan kantun = u

Kanggo sadina-dina = a

Lan ing wengi nagara miwah ing dhusun = u

Kabeh kang padha ambegan = a

Papat iku nora lali = i

Megatruh

Megatruh dalam bahasa Indonesia berarti terpisahnya tuh dari raga. Tembang Megatruh adalah tembang kematian, mengingatkan bahwa setiap yang hidup pasti mati.   

Contoh Tembang Megatruh (12u – 8i – 8u – 8i – 8o)

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul

Marga duwe lahir batin

Jroning urip iku mau

Isi ati klawan budi

Iku pirantine ewong

Guru Gatra= 5

Tembang Megatruh terdiri dari 5 baris kalimat

Guru Wilangan= 12, 8, 8, 8, 8

Baris kalimat pertama berjumlah 12 suku kata, baris kedua 8 suku kata., baris ketiga 8 suku kata, baris keempat 8 suku kata, dan baris kalimat kelima terdiri dari 8 suku kata.

Guru Lagu= u, i, u, i, o

Akhir kalimat sesuai dengan baris memiliki vokal u, i, u, i, o.

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul = u

Marga duwe lahir batin = i

Jroning urip iku mau = u

Isi ati klawan budi = i

Iku pirantine ewong = a

Pocung

Inilah tembang macapat terakhir. Tembang ini berisi gambaran manusia yang mati, di mana jasadnya dibungkus kain mori putih (pocong). Jasad yang kaku itu dipanggul laksana raja-raja sebagai gambaran bahwa kebaikan semaa hidupnya tetap dikenang.

Ada tafsiran lain bahwa Pocung merupakan biji kepayang. Serat Purwaukara menyebutkan Pocung adalah kudhuping gegodhongan atau kuncupnya dedaunan sehingga terlihat segar.

Selain itu, ucapan “cung” dalam pocung lebih cenderung pada hal-hal yang lucu, membawa kesegaran. Karena itu tembang pucung biasanya menceritakan lelucon dan nasehat. 

Contoh Tembang Pocung (12u-6a-8i-12a)

Ngelmu iku kelakone kanthi laku

Lekase lawan kas

Tegese kas nyantosani

Setya budya pengekesing dur angkara

Guru Gatra= 4

Tembang Pocung memiliki 4 baris kalimat.

Guru Wilangan= 12, 6, 8, 12

Setiap baris kalimat mempunyai suku kata sesuai dengan aturan. Baris pertama berjumlah 12 suku kata, baris kedua 6 suku kata., baris ketiga 8 suku kata, dan baris keempat jumlahnya 12 suku kata.

Guru Lagu= u, a, i, a

Akhir dari setiap kalimat sesuai baris adalah vokal u, a, i, a.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku = u

Lekase lawan kas = a

Tegese kas nyantosani = i

Setya budya pengekesing dur angkara = a

(*)

Baca juga: Menyelamatkan Naskah Kuno di Era Digital

 

 


105 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.