Asal Mula Unicorn dan Skema Investasi Startup


Asal Mula Unicorn dan Skema Investasi Startup
Unicorn/Istimewa

Bagi sebagian orang, unicorn mengingat pada kuda bertanduk satu dalam mitologi. Lantas bagaimana istilah unicorn bisa disematkan pada perusahaan startup dengan valuasi lebih dari US$1 miliar atau setara mencapai Rp 14,1 triliun?

Istilah unicorn pertama kali dimunculkan oleh seorang pemodal ventura dari Cowboy Ventures, Aileen Lee, pada 2013.  Unicorn menjadi kosa kata baru setelah salah satu riset Lee yang berjudul,  Welcome to the Unicorn Club: Learning From Billion-Dollar Startups” diterbitkan Tech Crunch.

Hasil riset itu, Lee menemukan hanya 0,07 persen perusahaan teknologi yang menerima investasi dari pemodal ventura bisa bernilai 1 miliar dolar AS.

“Saya mencari kata, bermain kata dengan mengucapkannya berkali-kali sampai akhirnya ketemu unicorn. Itu kata yang mewakili karena perusahaan dengan valuasi 1 juta dollar AS itu sangat langka. Ada ribuan perusahaan setiap tahun, tapi hanya beberapa yang akan mendapat predikat unicorn,” jelas Lee seperti dikutip dari International Business Times.

Selain menggambarkan kelangkaan, bagi Lee istilah unicorn juga membawa kesan mistis. Unicorn menggambarkan mimpi dari banyaknya perusahaan yang ingin meraih valuasi lebih dari 1 juta dolar AS.

“Saya pernah mencoba kata homerun, tapi kurang mewakili mimpi besar pendiri perusahaan startup untuk membangun hal-hal yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya,” ujar dia.

Dalam waktu cepat, istilah unicorn menjadi familiar di dunia industri teknologi mulai dari investor, pengusaha, dan siapa pun mereka menggeluti dunia teknologi. Alasan penggunaan istilah unicorn, kata Lee, karena ingin menggambarkan obsesi magis para startup yang berburu valuasi miliaran dollar AS.

Tapi seperti kata Lee, tidak mudah bagi perusahaan startup untuk menyandang predikat unicorn. Pasalnya, valuasi ditentukan oleh banyak aspek. Untuk menyuntikkan dana, para investor mempertimbangkan banyak hal agar investasinya berkembang.

Beberapa pertimbangan itu, misalnya, produk berpeluang digunakan banyak pengguna, produk solutif, atau merupakan produk bisnis yang potensial. Sosok pendiri pun bisa menjadi pertimbangan. Jadi memang tidak ada perhitungan saklek untuk menentukan valuasi.

Bagi perusahaan startup, mendapatkan suntikan dana akan sangat membantu pertumbuhan bisnisnya. Namun, investor tidak akan asal menanamkan modal. CEO Bukalapak Achmad Zaky pernah mengungkapkan beberapa alasan para investor menanaman modal ke perusahaan startup.

“Selain kualitas produk startup, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang menjalankan startup juga menjadi pertimbangan investor,” ujar Zaky.

Asal Mula Unicorn dan Skema Investasi Startup
Skema investasi starutp/Istimewa

Skema Investasi Startup

Pada bisnis konvensional, produl dijual dengan margin untuk profit. Dengan kata lain, keuntungan menjadi satu-satunya target. Namun pada perusahaan rintisan, profit tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan. Pada tahap awal, pendiri starup bahkan mengabaikan profit dengan  menjual produk di bawah harga pokok. Perusahaan tetap berjalan dengan menempatkan sejumlah modal untuk subsidi (investor).

Namun tidak otomatis bahwa dengan keberadaan investor membuat perusahaan untung. Banyak perusahaan rintisan yang bahkan tidak mampu meraih keuntungan. Namun di luar profit, para investor menanamkan modal karena percaya ada nilai yang dihasilkan dari produk startup. Inilah yang disebut dengan valuasi, sebuah nilai yang yang menghubungkan angka finansial suatu ekuitas dengan harganya yang diproyeksikan pada masa mendatang.

Pada umumnya terdapat tiga skema utama investasi dalam startup. Pertama adalah investasi dengan imbal hasil tetap. Pada skema ini, hasil investasi yang diminta berbentuk bunga sehingga konsep investasinya mirip skema utang.

Skema kedua investasi bagi hasil. Investor akan menerima pengembalian dana dan hasil investasi berdasarkan keuntungan.

Ketiga adalah investasi kepemilikan saham (equity investment). Menurut skema ini,  investor menanamkan dana tanpa mengharapkan pengembalian dan keuntungan. Sebaliknya, mereka menjadi bagian dari pemilik perusahaan dengan mengakuisisi sejumlah saham.

Maka, investor memiliki hak yang sama dengan pendiri startup, misalnya suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham, dan pembagian deviden. Skema ini banyak dipilih perusahaan startup. Sementara skema pertama dan kedua banyak dihindari karena tidak menjanjikan keuntungan dalam waktu dekat.(*)

 

Baca juga: Valuasi Startup Sebelum Unicorn, Ini Tahapannya

 

 


105 Articles
Wartawan aktif di The Jakarta Post. Sedang berusaha keras merintis jualan kaos mendemciu dan kopi.

1 Comment on Asal Mula Unicorn dan Skema Investasi Startup

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.